Acara Nyangku di Alun-alun

Acara Nyangku di Alun-alun
Tampilkan postingan dengan label situ lengkong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label situ lengkong. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Juli 2017

Foto-Foto Situ Lengkong Panjalu

Di bawah ini ditampilkan beberapa foto panorama situ Lengkong Panjalu yang diambil menggunakan drone.
[ Klik Untuk memperbesar ]
Situ Lengkong Panjalu
Rombongan pembawa pusaka tiba di gerbang Situ Lengkong Panjalu pada saat upacara Nyangku
Situ Lengkong Panjalu
Iring-iringan perahu yang membawa pusaka ke Nusa Gede pada saat upacara Nyangku

Situ Lengkong Panjalu
Jalan menuju Nusa Pakel

Situ Lengkong Panjalu
Nusa Pakel dan Nusa Gede

Situ Lengkong Panjalu
Perahu yang sedang mengelilingi Nusa Gede

Situ Lengkong Panjalu
Nusa Gede dilihat dari atas
Situ Lengkong Panjalu
Nusa Gede dilihat dari atas

Terlihat 3 buah pulau: Nusa Gede (kiri), Nusa Hujungwinangun (kanan) dan Nusa Pakel (bawah) 

Situ Lengkong Panjalu
Tempat pengunjung naik perahu

Situ Lengkong Panjalu
Bangunan yang menaungi makan Hariang Kencana di tengah Nusa Gede dilihat dari udara.

Situ Lengkong Panjalu
Dari gerbang Hujungwinangun sampai Nusa Pakel terdapat jalan untuk pejalan kaki

Senin, 01 Mei 2017

Makan Leluhur dan tokoh Panjalu

Di bawah ini beberapa tempat peristirahatan (makan ) beberapa leluhur dan tokoh Panjalu.

1. Makam Prabu Hariang Kencana yang merupakan putera dari Pangeran Borosngora di Nusa Gede

hariang kencana

2. Makam Raden Tumenggung Cakranagara II di Puspaligar, Panjalu

Raden Dalem Cakranagara


3. Makam Raden Dalem Cakranagara III di Nusa Gede Situ Lengkong Panjalu.
    Hidup th 1765-1853



3. Makan Raden Sumawijaya, putra dari Cakranagara III bupati Panjalu Terakhir di Nusa Gede Situ Lengkong Panjalu


Di nisannya tertulis: 
RADEDN DEMANG SUMAWIJAYA
DEMANG PANJALU
PUTRA DARI
RADEN DALEM CAKRANAGARA III
BUPATI PANJALU TERAKHIR


4. Makam R. H. Atong Tjakradinata bin R. H. Ghalib Tjakradinata di Puspaligar Panjalu
    Lahir 28 Maret 1927, meninggal 5 April 2015.
Atong Tjakradinata


Kamis, 01 September 2016

Festival Budaya Nyangku Panjalu 2016

Rundown Acara Festival Budaya Nyangku Panjalu  Bulan Desember 2016


26 September s/d 4 Nopember 2016
Pengambilan Tirta Kahuripan Untuk Upacara Nyangku

12-27 Desember 2016
Bazar di depan pasar dan terminal Panjalu

22 Desember 2016
08.00 - Selesai
SAMIDA Helaran seni budaya dan pengajian

23 Desember 2016
14.00-17.00
Prosesi penyerahan tirta kahuripan untuk upacara nyangku

25 Desember 2016
08.00 - selesai
Mauludan Pemdes di Taman Borosngora

26 Desember 2016
Upacara Nyangku
Helaran Budaya
Prosesi Pencucian Pusaka

27 Desember 2016
Pembersihan Pusaka


Motocross
24-25 Desember 2016

Sabtu, 16 April 2016

Makam Orang Belanda di Nusa Gede

Di Nusa Gede atau Nusa  Larang atau pulau Koorders pulau di tengah-tengah situ Lengkong, selain makam-makam para bangsawan panjalu, terdapat satu makam pejabat kolonial Belanda yang bernama Willem Hendrik Andreas Thilo seorang asisten residen daerah Galuh dan Kuningan. Pada nisannya tertulis sbb:

Beliau meninggal dunia pada tanggal 5 Februari 1832 dalam usia yang masih muda yaitu 31 tahun 5 bulan. Penyebab meninggalnya karena terjatuh dari kuda pada tanggal 28 November 1831.

Tetapi apakah nissan tersebut masih ada atau sudah tidak ada, perlu dicari di Nusa Larang.
Menurut penuturan alm Bapak Atong Cakradinata, ketika tentara Jepang jiarah ke Nusa Larang mereka memberi hormat ke makam Hariang Kencana, tetapi ketika dikatakan kepada mereka bahwa ada juga makan orang Belanda, tentara Jepang langsung naik pitam dan langsung memerintahkan untuk menghancurkannya. Belum jelas apakah yang dihancurkan itu nisan Mr Thilo di atas.
Jalan masuk ke komplek pemakaman Nusa Gede  saat ini (2016).



Makam Hariang Kencana Situ Lengkong Panjalu
Makam Hariang Kencana saat ini


Nusa gede situ Lengkong Panjalu
Jalan masuk ke komplek pemakaman Nusa Gede tahun 1920.

Nusa gede situ Lengkong Panjalu
Jalan masuk ke komplek pemakaman Nusa Gede tahun 1925.


Baca juga:

Senin, 11 April 2016

Nyangku Jaman Belanda

Barangkali foto-foto di bawah ini adalah dokumentasi upacara Nyangku yang paling tua yang saya temui. Dimuat dalam sebuah buku bahasa Belanda terbitan tahun 1938. Dalam buku tersebut diceritakatan tentang legenda Sanghyang Borosngora dan kronologis upacara Nyangku. Hanya saja di sana tidak disebutkan secara langsung tentang istilah "Nyangku". Entah sejak kapan istilah Nyangku ini digunakan. 

Memang tentang keindahahan situ Lengkong Panjalu banyak sekali turis-turis yang mendokumentasikannya, tetapi upacara Nyangku ini relatif tidak ada yang mendokumentasikan dengan baik. Barangkali karena tanggal dan harinya tertentu dan publikasi masih kurang sehingga tidak banyak yang meliput. 

Nyangku Panjalu jaman Belanda
Para pembawa pusaka sedang iring-irngan ke tempat pencucian pusaka (alun-alun)

Nyangku Panjalu jaman Belanda
Pusaka utama (pedang) sudah dibuka dan siap untuk dicuci.
Tidak jelas siapa yang memegang pedang tsb,
mungkin bapak kuwu  Nur Rohman Galib ? (orang tua Bpk Atong Cakradinata)

Pedang Sanghyang Borosngora yang disebut-sebut pemberian dari Sayyidina Ali.
Didokumentasikan tahun 1863-1864 oleh Isidore van Kinsbergen (1821-1905)

Bumi alit Panjalu  jaman Belanda
Lokasi Bumi Alit di jaman Belanda. Terlihat dikelilingi pagar dan pepohonan.
Diambil dari salah satu majalah Hindia Belanda bulan Juli 1921.

Bumi alit Panjalu  jaman Belanda
Bagian dalam ruangan Bumi alit pada jaman Hindia Belanda.
Dindingnya terbuat dari anyaman bambu (bilik).
Pusaka ditempatkan di rak yang digantung dan ditutupi dengan tirai kain.
Tampak seorang kuncen sedang duduk, yang pada waktu itu seorang perempuan.
Diambil dari salah satu majalah Hindia Belanda bulan Juli 1921.

Minggu, 13 Maret 2016

Dr Koorders dan Situ Panjalu



 
Seringkali situ Panjalu sering dikait-kaitkan dengan Dr Koorders. Memang batul, karena pulau yang ada di tengah-tengah yang bernama Nusa Gede disebut juga pulau Koorders. Siapa sebenarnya Koorders ini?

Sijfret Hendrik Koorders lahir di Bandung, 29 Nopember 1863. Dibesarkan di Haarlem Belanda, lalu belajar ilmu kehutanan di Berlin. Tahun 1884, ia ditugaskan ke Jawa sebagai pejabat kehutanan, tapi lebih minat dengan tumbuh-tumbuhan.

Antara 1884-1918, Koorders melakukan banyak ekspedisi di Jawa, sebagian Sumatera dan Minahasa. Dari ekspedisi itu, ia mengoleks 40.000 spesimen herbarium, lalu ia menulis 240 artikel ilmiah dan mendeskripsikan 596 jenis tumbuhan dengan kode “kds”. Jika kita membaca nama ilmiah “Pandanus bantamensin Kds”, artinya Koorders adalah orang pertama yang mendeskripsikan Pandanus bantamensin melalui publikasi ilmiah. Disela-sela kerja dan penelitiannya, ia selesaikan disertasi doktornya tahun 1897 di bidang botani dari Universitas Bonn, Jerman.

Bagi seorang peneliti, mendeskripsikan jenis baru adalah prestasi dan kebanggaan karena prosesnya yang rumit. Sebagai penghormatan atas prestasinya, 25 ilmuwan mengabadikan Koorders menjadi nama marga tumbuhan (Koordersiodendron dan Koordersiochloa), 37 jenis dan 2 variasi jenis tumbuhan. Kalau sekarang, asal bisa bayar ke penemunya, nama kita bisa diabadikan sebagai nama jenis. Tapi dulu, pemberian nama merupakan penghargaan atas prestasi seseorang.


Keluarga Dr Koorders sedang menunggang kuda di pegunungan Tengger

Selain di bidang botani, Koorders juga membidani lahirnya Perkumpulan Perlindungan Alam Hindia Belanda pada tanggal 22 Juli 1912. Perkumpulan itu dibentuk karena prihatin atas kerusakan hutan yang ada pada saat itu. Koorders menjadi ketua perkumpulan hingga meninggal tahun 1919. Saya pikir, Perkumpulan ini adalah LSM pertama di bidang konservasi di Indonesia, walaupun dari  19 anggota hanya satu pribumi asli, Pangeran Poerbo Atmodjo (Bupati van Kutohardjo).

Dalam kepemimpinannya, Perkumpulan ini berhasil mendirikan dan mengelola Monumen Alam (MA) Depok (1913), MA Rumphius di Ambon (1913), mengajukan sejumlah kawasan menjadi monumen alam, dan mengusulkan Ordonansi Monumen Alam (1916) kepada pemerintah. Natuurmonumenten Ordonantie itu akhirnya terbit tahun 1916, disusul penunjukan 55 monumen alam (1919), 7 monumen alam (1920), dan 6 monumen alam (1921).
Dr. Koorder sedang bekerja di laboratorium dengan para staffnya. Foto th 1890-1900.

Dr. Koorders dan istrinya (Anna Koorders ) di Purworejo. Maret 1906
Koorders meninggal tanggal 16 Nopember 1919 akibat penyakit paru-paru. Ia dimakamkan di Cikini (Weltervreden). Wafatnya Koorders, pejabat kehutanan yang ahli botani itu mendorong 11 ilmuwan ternama seperti Alfred Russel Wallace, menuliskan kenangannya dalam jurnal ilmiah Tectona dan Bulletin du Jardin Botanique. Sebagai penghormatan atas jasanya, Perkumpulan mengusulkan kepada Pemerintah Hindia Belanda mengubah nama MA Pulau Nusa Gede di Danau Panjalu (sekarang Situ Lengkong) menjadi Pulau Koorders dan MA Koorders. Usulan itu disetujui pada tahun 1921.
Dr. Koorders dan istrinya (Anna Koorders) di Purworejo. Maret 1906

Papan keterangan di gerbang masuk ke pulau "Koorders"


CAGAR ALAM PANJALU/KOORDERS
KEADAAN FISIK KAWASANLuas dan letak
Kawasan hutan Panjalu/koorders ditetapkan sebagai Cagar Alam (CA) berdasarkan Gb. Tanggal 21-2-1919 Nomor : 6 Stbl. 90, dengan luas lahan 16 Ha. Cagar alam ini terletak di tengah danau (situ) yaitu : Situ Lengkong, secara astronomis terletak antara 7 derajat 9� � 7 derajat 17� LS dan 108 derajat4� � 108 derajat 21� BT. Sedangkan menurut administrasi pemerintahan termasuk kedalam wilayah desa Panjalu Kabupaten Ciamis.

Topografi
Keadaan topografinya termasuk datar dengan ketinggian tempat 731 � 760 meter di atas permukaan laut.

Iklim
Menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson, iklim Kawasan ini termasuk iklim tipe B dengan curah hujan rata-rata 3.195 mm per tahun. Suhu rata-rata 19-32 derajat Celsius.

 POTENSI BIOTIK KAWASAN

Flora
Vegetasi yang ada di Cagar Alam Panjalu cukup banyak jenisnya, sebagian besar merupakan hutan primer yang masih utuh. Tumbuhan yang mendominasi kawasn ini adalah : Kihaji (Dysoxilum sp), Kileho (Sauraula sp), Kondang (Ficus variegata), Kiara (Ficus sp), Bungur (Lagerstromia sp), dan Huru (Litsea sp), sedangkan tumbuhan bawah diantaranya adalah : Rotan (Calamus sp), Tepus (Zingi beraceae) dan Langkap (Arenga sp).

Fauna
Satwa liar yang banyak dan mudah dijumpai adalah : Kalong (Pteropus vampyrus). Janis fauna lainnya adalah Tupai (Calosciurus nigrivittatus), Trenggiling (Manis javanicus), Biawak (Varanus salvator), Ular Sanca (Phyton repticulatus) dan beberapa jenis burung seperti Burung Hantu (Otus scops), Elang (Haliastur indus) dan Gelatik  (Munia sp).

AKSESIBILITASUntuk menuju kawasan Cagar Alam Panjalu dapat di tempuh melalui :
  1. Bandung � Ciawi � Panjalu, sejauh � 95 Km.
  2. Tasikmalaya � Rajapolah �Cihaurbeuti � Panjalu, berjarak � 40 Km.
  3. Ciamis � Cihaurbeuti � Panjalu berjarak � 40 Km.

Baca juga:
Peta Panjalu

Kelestraian Situ "Koorders" Panjalu



Sumber:
http://suerdirantau.wordpress.com
http://commons.wikimedia.org




Selasa, 03 Maret 2015

Peta Panjalu

Desa Panjalu


Kecamatan Panjalu



Kabupeten Ciamis

Peta Panjalu Jaman Hindia Belanda tahun 1924



Klik untuk memperbesar

Baca: