Di bawah ini diuraikan tentang silsilah keturunan kerajaan Panjalu sampai kepada bapak R.H. Atong Tjakradinata (mantan Kuwu Desa Panjalu).
Acara Nyangku di Alun-alun
Selasa, 17 Februari 2015
Senin, 09 Februari 2015
Bumi Alit Panjalu
![]() |
| Lokasi Bumi Alit jaman Hindia Belanda dikelilingi pagar dan pemohonan. Diambil dari majalah Hindia Belanda edisi Juli 1921. |
Benda-benda pusaka yang tersimpan di Bumi Alit itu antara lain adalah:
1. Pedang, cinderamata dari Baginda Ali RA, sebagai senjata yang digunakan untuk pembela diri dalam rangka menyebarluaskan agama Islam.
2. Cis, berupa tombak bermata dua atau dwisula yang berfungsi sebagai senjata pelindung dan kelengkapan dalam berdakwah atau berkhutbah dalam rangka menyebarluaskan ajaran agama Islam.
3. Keris Komando, senjata yang digunakan oleh Raja Panjalu sebagai penanda kedudukan bahwa ia seorang Raja Panjalu.
4. Keris, sebagai pegangan para Bupati Panjalu.
5. Pancaworo, digunakan sebagai senjata perang pada zaman dahulu.
6. Bangreng, digunakan sebagai senjata perang pada zaman dahulu.
7. Gong kecil, digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan rakyat pada zaman dahulu.
8. Kujang, senjata perang khas Sunda peninggalan seorang petapa sakti bernama Pendita Gunawisesa Wiku Trenggana (Aki Garahang) yang diturunkan kepada para Raja Panjalu.
Pada awalnya Bumi Alit berupa taman berlumut yang dibatasi dengan batu-batu besar serta dilelilingi dengan pohon Waregu. Bangunan Bumi Alit berbentuk mirip lumbung padi tradisional masyarakat Sunda berupa rumah panggung dengan kaki-kaki yang tinggi, rangkanya terbuat dari bambu dan kayu berukir dengan dinding terbuat dari bilik bambu sedangkan atapnya berbentuk seperti pelana terbuat dari ijuk.
Pada masa pemerintahan Raden Tumenggung Wirapraja bangunan Bumi Alit dipindahkan dari Dayeuh Nagasari, Ciomas ke Dayeuh Panjalu seiring dengan perpindahan kediaman Bupati Tumenggung Wirapraja ke Dayeuh Panjalu. Pasucian Bumi Alit dewasa ini terletak di Kebon Alas, Alun-alun Panjalu.
Ketika di Jawa Barat berkecamuk pemberontakan DI/TII S.M. Kartosuwiryo (1949-1962) yang marak dengan perampokan, pembantaian dan pembakaran rumah penduduk oleh para pemberontak, benda-benda pusaka yang tersimpan di Pasucian Bumi Alit itu diselamatkan ke kediaman sesepuh tertua keluarga Panjalu yaitu Raden Hanafi Argadipradja, cucu Raden Demang Aldakusumah di Kebon Alas, Panjalu.
Pada tahun 1955, Bumi Alit dipugar oleh warga dan sesepuh Panjalu yang bernama R.H. Sewaka (M. Sewaka) mantan Gubernur Jawa Barat (1947-1948, 1950-1952). Hasil pemugaran itu menjadikan bentuk bangunan Bumi Alit yang sekarang, berupa campuran bentuk mesjid jaman dahulu dengan bentuk modern, beratap susun tiga. Di pintu masuk Museum Bumi Alit terdapat patung ular bermahkota dan di pintu gerbangnya terdapat patung kepala gajah. Hingga kini, pemeliharaan Museum Bumi Alit dilakukan oleh Pemerintah Desa Panjalu yang terhimpun dalam ‘Wargi Panjalu’ di bawah pengawasan Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Ciamis. Baca: Silsilah Keturuna Panjalu.
Terjadi pencurian tahun 2012
Pada tgl 27 Januari 2012 terjadi pencurian benda pusaka. Benda pusaka yang dicuri adalah pedang Sayyidina Ali dan keris komando. Pencuri berhasil masuk bumi alit dengan membobol atap bangunan Bumi Alit. Tetapi beberapa hari kemudian pencuri berhasil ditangkap beserta barang hasil curiannya.
Menurut penuturan pencuri yang bernama Ed pemuda asal Lampung, pencurian itu dilakukan bukan atas kehendak pribadinya, melainkan atas bisikan gaib yang mengatakan kedua pusaka itu adalah miliknya. Bahkan, jelasnya, bisikan gaib tersebut telah diterimanya sejak dua tahun yang lalu tanpa menyebutkan lokasinya di mana.
“Dari beberapa orang pintar yang ditanya saya menunjukan bahwa pusaka tersebut ada di Panjalu,“ paparnya.
Sebelum mencurinya, dia mengaku telah berada di Panjalu selama satu bulan. Selama itu pula dia berziarah ke makam sekaligus meminta pusaka tersebut secara baik-baik kepada sesepuh Bumi Alit Panjalu. Namun, tidak diberikan. Maka untuk memilikinya dia mencurinya.
”Jujur saya tidak akan menjual pedang tersebut, melainkan akan dimiliki saja. Barangkali nanti bisa ada petunjuk bagi saya,” tandas Ed.
Pada tgl 27 Januari 2012 terjadi pencurian benda pusaka. Benda pusaka yang dicuri adalah pedang Sayyidina Ali dan keris komando. Pencuri berhasil masuk bumi alit dengan membobol atap bangunan Bumi Alit. Tetapi beberapa hari kemudian pencuri berhasil ditangkap beserta barang hasil curiannya.
| Pintu pagar masuk Bumi Alit |
“Dari beberapa orang pintar yang ditanya saya menunjukan bahwa pusaka tersebut ada di Panjalu,“ paparnya.
Sebelum mencurinya, dia mengaku telah berada di Panjalu selama satu bulan. Selama itu pula dia berziarah ke makam sekaligus meminta pusaka tersebut secara baik-baik kepada sesepuh Bumi Alit Panjalu. Namun, tidak diberikan. Maka untuk memilikinya dia mencurinya.
”Jujur saya tidak akan menjual pedang tersebut, melainkan akan dimiliki saja. Barangkali nanti bisa ada petunjuk bagi saya,” tandas Ed.
Untuk menanggulangi pencurian lagi pada tahun 2014 Bumi Alit bagian dalam (ruangan tempat penyimpanan benda pusaka) dipugar menjadi bangunan yang lebih permanen atas bantuan kementerian Pariwisata, sedangkan bangunan bagian luarnya (teras) masih dipertahankan seperti semula. Baca: Nyangku harus dilestarikan.
![]() |
| Ruang yang mengelilingi bumi alit. |
![]() |
| Pintu gerbang untuk memasuki ruang tengah. Di kiri kanan tertulis angka yang menunjukkan bangunan dibuat tgl 15 Maret 2000. |
Bumi Alit Jaman Belanda![]() |
| Ruangan Bumi Alit jaman Hindia Belanda. Pusaka disimpan dalam lemari yang digantung dan hanya ditutupi oleh tirai kain. Dinding Bumi Alit masih menggunakan anyaman bambu. Tampak disebelah kanan duduk seorang kuncen yang pada saat itu seorang perempuan, Diambil dari majalah Hindia Belanda edisi Juli 1921. |
Minggu, 25 Januari 2015
Selasa, 20 Januari 2015
“NYANGKU” HARUS DILESTARIKAN
Penghormatan Atas Jasa Para Leluhur
PANJALU, ( KP), -
Senin (19/1/2015) alun-alun Panjalu berbeda dengan hari biasanya.
Di tempat itu ribuan warga dari berbagai daerah tumplek untuk menyaksikan upcara adat nyangku, yakni proses pencucian benda pusaka peninggalan Prabu Sanghiang Boros Ngora.
Selain dipadati warga, tampak hadir Bupati Ciamis Iing Syam Arifin dan para pejabat teras lainnya.
Juru Kunci Bumi Alit, Usup Sanusi mengatakan, kegiatan ini selalu dilakukan secara rutin setiap tahun, pada bulan Maulid.
Upacara ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap Prabu Sanghiang Boros Ngora atas jasa-jasanya, sebagai Raja Galuh penyebar agama Islam pertama dan tradisi ini sudah diperingati sejak jaman Prabu Sanghiang Boros Ngora.
Lebih lanjut menurut Usup, prosesi pencucian benda pusaka peningalan Prabu Sanghiang Boros Ngora, dimulai berangkat dari tempat penyimpanan pusaka di Bumi Alit.
Setelah itu pukul 08.00 pusaka dibawa menuju Nusa Gede Situ Lengkong untuk dilaksanakan ritual tertentu. Setelah selesai pusaka tersebut dibawa lagi ke alun -alun untuk dilaksanakan prosesi penyucian pusaka dengan tirta kahuripan, yang diambil dari 9 sumber mata air.
Usai pencucian, pusaka-pusaka tersebut dibungkus lagi dengan kain putih untuk disimpan di Bumi Alit.
Bupati Kabupaten Ciamis. H. Iing Syam Arifin, mengatakan, budaya adat nyangku yang biasa dilaksanakan oleh warga Panjalu, sudah merupakan aset wisata budaya Kabupaten Ciamis yang harus terus dilestarikan.
Bupati Iing Syam Arifin mengimbau kepada masyarakat agar tradisi budaya nyangku ini, agar dipahami oleh masyarakat agara budaya nyangku ini jangan dijadikan sebagai budaya rebutan air, tetapi sebagai wujud penghormatan terhadap para leluhur kita atas jasa-jasanya.
Bahkan kini Pemkab Ciamis telah membuka lagi akses jalan supaya warga yang berada di luar Kab. Ciamis lebih mudah untuk datang ke Panjalu, “ ujarnya. ( E. Setia Budi). ***
Sumber:http://www.kabar-priangan.com/
Baca:
Nyangku 2007. .
Nyangku Menjaga Kearifan Lokal
Upacara dimulai sekitar pukul 07.30 pagi dengan mengeluarkan benda-benda pusaka dari Bumi Alit- tempat menyimpan benda pusaka- dan diarak dengan cara digendong oleh keturunan raja Panjalu menuju Nusa Gede. Iringan shalawat mengiringi prosesi rombongan menuju pemakaman raja Panjalu terakhir yakni Prabu Borosngora sebelum akhirnya dibawa kembali ke Alun-alun Panjalu.
Semua pusaka itu dibersihkan menggunakan air dari sembilan mata air yang ada di Taman Borosngora alias alun-alun. Sembilan mata air itu bersumber dari Gunung Bitung Majalengka, Cilengkong Panjalu, Cipanjalu Desa Bahara, Kapunduhan Cibungir Kertamandala, Batu Bokor Cikadu Sindang Barang, Cilimus Jaya Giri, Citatah Sanding Taman, Karantenan Gunung Syawal, Pangbuangan Garahang Panjalu dan Geger Emas Ciomas.
Setelah dibersihkan pusaka kemudian dibungkus dan disimpan kembali ke Bumi Alit. Pembersihan secara simbolis hanya dilakukan terhadap tiga benda pusaka. Antara lain pedang Zulfikar yang dipercaya merupakan pemberian Sayidina Ali, Kujang Panjalu dan Keris Stok Komando.
Keluarga Yayasan Borosngora Prof Johan Wiradinata mengatakan tradisi Nyangku merupakan simbol membersihkan diri. Kegiatan itu juga menjadi ajang silaturahmi warga Panjalu dan warga Kabupaten Ciamis.
“Kalau dulu Nyangku ini sebagai even bertemunya para tokoh. Kendalannya saat ini tidak datangnya para pejabat karena nyangku diadakan pada hari Senin terakhir di bulan Mulud. Dimana hari pertama ini sebagai hari kerja, banyak yang mengusulkan di akhir pekan namun karena sebagai penghormatan sejak dulu dan diyakni sebagai hari lahirnya Nabi Muhammad SAW,” jelasnya.
Dia menuturkan upacara adat Nyangku akan terus dilestarikan sebagai kearifan lokal Panjalu. Upacara ini juga sebagai salah satu alat untuk membendung budaya asing masuk ke daerah itu. “Meskipun tidak semua budaya asing negatif namun ada beberapa hal yang perlu diantsipasi. Dengan kearifan lokal yang kuat maka hal itu bisa terbendung,” katanya.
Bupati Ciamis Drs H Iing Syam Arifin menyebut upacara adat Nyangku merupakan momen tepat untuk memperkenalakan Situ Lengkong Panjalu. Festival tersebut adalah kekayaan Ki Sunda yang masih lestari hingga kini. “Kita harus menjaga keasrian lingkungan sehingga jadi daya tarik. Supaya potensi wisata budaya religi tergali,” kata Iing.
Iing berjanji tahun 2015 pemerintah akan menata obyek wisata Situ Lengkong Panjalu. Kedepan lokasi wisata ini menjadi andalan Ciamis setelah Pangadaran berpisah. (dhs)
Sumber:http://www.radartasikmalaya.com/
Selasa, 13 Januari 2015
Dede Yusuf, Turunan Raja Panjalu
BEBERAPA waktu yang lalu, Yayasan Borosngora membuat silsilah resmi Wakil Gubernur Jawa Barat, Yusuf Macan Effendi. Silsilah tersebut ditandatangani oleh sekretaris Yayasan Boros Ngora, Bapak Ikin Susanto. Dari silsilah Yusuf Macan Efendi yang saya pelajari dari garis ibunya, ternyata leluhur Dede Yusuf berasal dari Kampung Simpar, Panjalu, Ciamis.
| Dede Yusuf ikut dalam iring-iringan pembawa pusaka dalam acara Nyangku tahun 2007 |
Bermula dari Dalem Cakranagara I yang memiliki tujuh orang putra. Diantaranya adalah Nyi Raden Panatamantri (putra keempat), yang kemudian dinikahi oleh Demang Diramantri (Patih Panjalu). Selanjutnya Nyi Raden Panatamantri mempunyai sembilan keturunan. Anak keduanya adalah Demang Wangsadipraja, yang menjadi Patih Panjalu juga. Selanjutnya Demang Wangsadipraja mempunyai 14 keturunan, diantaranya adalah Demang Cakrayuda (anak kedua).
Demang Cakrayuda selanjutnya menjadi patih Kuningan (1819-1825), dan memperistri Nyi Raden Rengganingrum (putri Dalem Cakranagara II). Anak yang pertama bernama Raden Warga Bangsa atau lebih dikenal dengan nama Raden Haji Abdul Hamid. Selanjutnya Raden Haji Abdul Hamid menikahi Nyi Raden Natadiningrat Binti Demang Moekadikoesoemah. Konon anaknya berjumlah 23 orang dari dua istrinya. Diantaranya adalah Raden Wangsa Soedjatmadiwiria.
Raden Wangsa Soedjatmadiwiria menikah dengan Nyi Raden Padmita, daan memiliki tiga keturunan, yaitu Nyi Raden Erni, Nyi Raden Hadidjah, dan Raden Moh. Saleh.
Nyi Raden Hadidjah atau dikenal juga Nyi Raden Djodjoh menikah dengan Yusuf Effendi, yang kemudian mempunyai anak bernama Nyi Raden Rahayu Effendi. Nah, selanjutnya Nyi Raden Rahayu Effendi mempunyai anak bernama Yusuf Macan Effendi (Dede Yusuf), yang kini menjadi Wakil Gubernur Jawa Barat. Baca: Silsilah keturunan Panjalu
Jumat, 02 Januari 2015
Situ Lengkong jaman Belanda
Langganan:
Postingan (Atom)






















