Acara Nyangku di Alun-alun

Acara Nyangku di Alun-alun

Kamis, 01 Januari 2015

Nusa Gede di Tengah Situ Panjalu

Situ Panjalu jaman Belanda
Nusa Gede di Tengah Situ Panjalu
Cagar Alam Sekaligus Cagar Budaya
Nusa Gede, demikian warga adat Panjalu atau mereka yang memiliki darah
keturunan Panjalu, kerap menyebut pulau kecil seluas 16 hektaree di
tengah Situ Lengkong atau Situ Panjalu. Namun, ada juga yang
menyebutnya sebagai Nusa Panjalu atau Nusalarang. Berada pada
ketinggian sekira 700 meter di atas permukaan laut, masuk dalam
wilayah Desa dan Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis Jawa Barat.
OBJEK wisata Situ Panjalu Kab. Ciamis dengan Pulau Nusa tempat makam
bersejarah. Di objek ini bisa rekreasi keliling perahu.*UNDANG
SUDRAJAT/"PR"

Pada masa penjajahan Belanda, perhatian sangat besar ditujukan
terhadap keberadaan dan kelestarian Nusa Gede. Sebagai bentuk
penghargaan kepada Dr. Koorders, ketua pertama Nederlandsch Indische
Vereeniging tot Natuurbescherming, sebuah perkumpulan perlindungan
alam Hindia Belanda yang didirikan tahun 1863, Nusa Gede berubah nama
menjadi Pulau Koorders.

Bahkan, pada 21 Februari 1919 area Situ Lengkong dengan Nusa Gede atau
Nusa Panjalu atau Nusalarang-nya dinyatakan sebagai kawasan cagar alam
yang benar-benar dijaga kelestarian alam serta budaya yang ada di
dalamnya.

Koorders pada zamannya, dikenal sebagai seseorang yang menaruh
perhatian besar pada botani. Bersama perkumpulannya yang diketuai,
dirinya memelopori pencatatan berbagai jenis pohon yang ada di Pulau
Jawa. Dibantu TH Valenton seorang ahli botani, pekerjaan mengumpulkan
herbarium dan penelitian ilmiah komposisi hutan tropika.

Karen Koorders dan Valenton serta rekannya, akhirnya berhasil
memberikan sumbangan yang tidak kecil pada dunia ilmu pengetahuan
mengenai tumbuhan. Kemudian hasil penelitian tersebut dituangkan dalam
bukunya, "Bijdragen tot de Kennis der Boomsoorten van Java", sebuah
buku tentang pohon-pohon yang tumbuh di Pulau Jawa.

Sebagai kawasan cagar alam yang berada dalam pengawasan KPH Ciamis,
Nusalarang memiliki vegetasi hutan primer yang relatif masih utuh dan
tumbuh secara alami. Wisatawan yang berkunjung dapat menikmati
berbagai jenis flora.

Saat memasuki kawasan, pengunjung sudah disambut pepohonan rotan
(Calamus Sp), tepus (Zingiberaceae), dan langkap (Arenga). Semakin
masuk ke dalam, pengunjung akan melihat pepohonan besar kileho
(Sauraula Sp), kihaji (Dysoxylum) dan kikondang (Ficus variegata).

Selain jenis flora, di kawasan Nusa Gede juga dapat ditemui berbagai
jenis fauna, sebut saja antara lain tupai (Calosciurus nigrittatus),
burung hantu (Otus scops), dan kalong (Pteropus vampyrus). Sementara
Elang jambul putih hanya sesekali mendatangi Nusa Gede.

Belakangan menurut keterangan Wawan, salah seorang petugas Perhutani
KPH Ciamis, populasi kalong di daerah itu bertambah dengan
berdatangannya kawanan kalong dari Astana Gede Kawali.

Astana Gede yang terletak di Kecamatan Kawali, enam kilometer arah
utara Kota Ciamis, itu selama ini dianggap sebagai pusat Kerajaan Galuh.

Kawanan kalong yang bersarang di situs tersebut dikabarkan sudah lebih
dulu hijrah ke Situ Lengkong, jauh sebelum terjadi bencana angin ribut
melanda situs Astana Gede Kawali. Situs Astana Gede Kawali dipercaya
mempunyai hubungan sejarah dengan situs Panjalu di Nusalarang.

Namun, setiap wisatawan yang berkunjung ke Situ Lengkong dan Nusa
Gede, kebanyakan tujuan utamanya bukan untuk menikmati keindahan alam
atau menyaksikan flora dan faunanya, tetapi umumnya wisatawan yang
berkunjung, datang untuk mengunjungi pulau yang terdapat makam leluhur
masyarakat Panjalu yang menjadi perintis penyebaran agama Islam di Jabar.

Nusa Gede atau Nusa Larangan merupakan pemakaman raja-raja Panjalu dan
keturunannya sampai Bupati Panjalu terakhir, Dalem Tjakranegara III.
Berdasarkan gambar dan buku klasiran desa tahun 1937, luas Situ
Lengkong mencapai 69,98 hektare dan Nusa Gede hanya 9,25 hektare.

Pemilik keturunan terakhir Situ Lengkong, Demang Prajadinata,
dikabarkan meninggal di Mekah. Namun, sebelum berangkat pada tahun
1908, beramanat agar Situ Lengkong dijadikan tanah hak kulah. Air dan
ikannya dizariahkan, sedangkan pemeliharaannya diserahkan ke
pemerintah desa.

Pada tahun 1929 pernah terjadi gugatan, tetapi dapat diselesaikan.
Dengan surat keputusan gubernur jenderal saat itu, Situ Lengkong
akhirnya dinyatakan tidak termasuk kekayaan pemerintah. Saat itu,
kedalaman air Situ Lengkong di daerah tertentu mencapai lebih dari 10
meter. Jika dilihat dari jauh, warnanya membiru.

Namun, kini kondisinya benar-benar sudah berubah. Luas Nusa Gede
menjadi 16 hektare sementar luas Situ Lengkong semakin menyempit. Hal
ini diakibat kerusakan daerah hulu, kedalaman air situ tersebut kini
antara 7 hingga 4 meter. Sedimentasi yang terus berlangsung akibat
penebangan pohon-pohon di daerah hulu Cipanjalu, dikhawatirkan akan
mengakibatkan Situ Lengkong berubah menjadi daratan.

Dampak lainnya, menurut Kabid Kebudayaan Diparda Kab. Ciamis, Drs.
Owoy Ruswanda, kegiatan wisata yang tidak terkelola dengan baik juga
menimbulkan kemerosotan mutu air Situ Lengkong. Selain luas situ yang
makin sempit, tingkat pencemaran airnya makin tinggi. Airnya tidak
bening lagi karena di perairan tersebut beroperasi sekira 20 motor
tempel yang menggunakan bahan bakar solar.

Karena kegiatan wisata itu tumbuh secara alami tanpa rencana dan
sentuhan manajemen terpadu berbagai aspek, berakibat kurang memberi
manfaat ekonomi secara langsung. Karena itu, dalam Pelatihan Juru
Pelihara dan Kuncen Se-Jawa Barat yang baru pertama kali diadakan
Disbudpar Jabar akhir bulan November lalu, Kadisbudpar Jabar Drs. H.I.
Budhyana, M.Si., menawarkan beberapa skenario untuk menata kawasan
tersebut.

Situ Lengkong dan Nusa Gede merupakan objek wisata budaya dan wisata
alami. Para pengunjungnya berasal dari berbagai daerah. Berdasarkan
angket yang secara rutin disebar, pada tahun 2003 kunjungan yang
berasal dari Jabar mencapai 63 persen, Jateng 13 persen, dan Jatim
sebanyak 23 persen, serta dari daerah lainnya satu persen.

Di kalangan warga adat Panjalu atau keturunanannya, Situ Lengkong
berdasarkan kisah-kisah lisan yang beredar selama ini tidaklah dengan
sendirinya terbentuk. Situ tersebut terbentuk sebagai bagian dari
proses pengislaman yang dirintis Prabu Borosngora, anak kedua dari
Prabu Sanghyang Tjakradewa.

Berdasarkan Babad Panjalu, Prabu Borosngora disebut sebagai buyut
Sanghyang Ratu Permanadewi, Ratu Kerajaan Soko Galuh yang membawa
ajaran karahayuan (kemakmuran). Karena dipimpin seorang wanita,
kerajaan tersebut dinamakan Kerajaan Panjalu. Dalam bahasa Sunda,
berarti laki-laki.

Kerajaan Panjalu pernah kuat dan besar. Namun sayang, dalam perjalanan
selanjutnya, kerajaan tersebut pernah masuk menjadi bagian Kesultanan
Cirebon sampai akhirnya menjadi kabupaten. Wilayahnya kemudian
digabung dengan Kabupaten Imbanagara dan Kawali sehingga menjadi
Kabupaten Ciamis sekarang.

Selain merupakan objek wisata, sebagai bekas kerajaan, Panjalu
sebenarnya masih memiliki daya tarik lainnya berupa upacara nyangku.
Upacara itu setiap tahun diselenggarakan pada hari Senin atau Kamis
terakhir bulan Maulud.

Nyangku yang berasal dari bahasa Arab yanko artinya sama dengan
membersihkan. Dalam upacara tersebut, pedang hadiah dari Sayidina Ali
dan barang pusaka lainnya seperti cis, keris, dan tombak dikeluarkan
dari tempat penyimpanannya di Bumi Alit untuk dibersihkan.

Prosesi upacaranya dilanjutkan dengan membawa barang-barang pusaka
tersebut ke Nusalarang, lalu kembali ke balai desa untuk dibersihkan.
Menjelang tengah hari, barang-barang pusaka itu disimpan kembali ke
tempat asalnya.

Bagi masyarakat Panjalu, nyangku memiliki makna yang lebih luas. Dan
sesuai dengan ajaran leluhur mereka, setiap langkah dalam upacara
tersebut memiliki makna tersendiri yang bertujuan meningkatkan
kebahagiaan lahir-batin keturunan Panjalu.

Kepada anak-cucunya, Raja Panjalu mewariskan papagon atau ajaran yang
antara lain berbunyi; "Pakena gawe rahayu dan pakena kreta bener" dan
"mangan karna halal, pake karna suci, ucap lampah sabenere,". "Hingga
kini ajaran tersebut selalu dipegang teguh oleh mereka yang merasa
sebagai keturunan Panjalu meskipun sudah menetap jauh di luar
Panjalu," ujar Bah Atong, yang merupakan keturunan ke-14 Prabu
Borosngora.(Retno HY/PR)***
Baca:
Situ Lengkong jaman belanda.
Nusa Gede di tengah situ Panjalu. 
Kelestarian situ Koorders Panjalu.
Tempat-tempat ziarah di Panjalu.
Upacara Nyangku.

Rabu, 31 Desember 2014

Ciamis , Tasik, Panjalu dan Sekitarnya Tempoe Doeloe




Panjalu tahun 1925-1933
Tampak 3 orang gadis sedang membawa (nyuhun) kele dengan kepalanya. Kele adalah  alat untuk membawa air dari bambu gelondongan. Kele ini masih digunakan ketika upacara Nyangku untuk membawa air untuk membersihkan pusaka. Dari upacara Nyangku ini Teh Neneng Peking mendapat inspirasi untuk membuat tarian "Bambu Suhun" sebagai tari khas Ciamis.

Situ Lengkong tahun 1910.
Sebuah rakit sedang berlayar di tengah situ Lengkong. Situ Lengkong menjadi cagar alam sejak tahun 1919



Panawangan Ciamis 1930
Kampung Cibali Ciamis 1929
Medang Lawang Panumbangan 1930
Danau kawah Ganunggung tahun 1920
Pemandangan sawah di kaki gunung Galunggung tahun 1910
Mesjid agung Tasikmalaya Juli 1902

Di bawah ini foto proyek pembangunan jalur kereta Ciamis-Banjar-Cijulang



Jembatan Cirahong
Jembatan Cirahong

Jembatan Cirahong



Jumat, 12 Desember 2014

Kelestraian Situ "Koorders" Panjalu

Kelestraian Situ "Koorders Panjalu
Lambang Kecintaan pada Lingkungan

Situ Lengkong dari satelit

SEANDAINYA Prabu Sanghiang Borosgora atau Prabu Hariang Kancana saat ini masih hidup, bisa jadi akan tersenyum bangga jika melihat keadaan hutan dan Danau Panjalu terjaga kelestariannya. Terlebih lagi jika sudah dibangun mesjid raya dengan rencana biaya miliaran rupiah.
Presiden RI Gus Dur beberapa waktu lalu mengadakan haol di Panjalu. Bahkan sekaligus mengaku keturunan Panjalu. " Sebelum menjadi presiden, Gus Dur sudah beberapa kali berziarah ke Nusa gede," ujar Rd. H. Atong Cakradinata salah seorang sesepuh di Panjalu.

Sosok Situ Lengkong kini bukan lagi hanya sosok wisata alam berupa danau dengan nuansa lingkungan yang masih utuh. Namun juga menjadi tujuan ziarah ke makam Prabu Sanghiang Borosgora yang ada ditengah Nusa Gede atau Nusa Panjalu. Lebih dari itu telah menjadi lahan kehidupan sejumlah warga, dengan membuka kedai ikan bakar dan jenis makanan lainnya, penjual buku sejarah Panjalu termasuk penjaja cindera mata, meski diantaranya mereka bukan asli warga Panjalu.

Sedangkan makanan khas Panjalu buta ole-ole adalah "Kalua Jeruk" yang terbuat dari kulit jeruk, atau wajit Panjalu. Kelestarian Situ Panjalu atau Situ Lengkong adalah pencerminan kecintaan warga setempat pada lingkungan yang diwariskan turun temurun melalui isyarat bahasa tabu. Sebab, ragam tumbuhan yang ada di Nusa Gede sampai saat tetap tumbuh subur dan terpelihara alami karena tidak ada yang berani mengganggu.

Karena air Situ Lengkong tidak pernah kering meski terjadi kemarau panjang. Kawasan Nusa Gede menjadi habitat bagi kalong serta satwa lainnya dengan tingkat populasi yang terus bertambah. Suara kalong yang bersahutan dengan nyayian burung lainnya menjelang senja, atau di pagi hari seolah menjadi pelengkap daya tarik tersendiri.

Para pengunjung setiap hari selalu saja ada apalagi pada hari minggu atau liburan lainnya. Terlebih jika bulan Maulud, karena para peziarah bukan hanya berasal dari Jawa Barat. Namun juga dari daerah Jateng dan Jatim. Mereka datang menggunakan bus carteran. Perjalanan mereka merupakan satu paket setelah berziarah ke Gunungjati, Cirebon, Banten, dan Pamijahan, Tasikmalaya atau sebaliknya.

Jika akan berpesiar mengintari Situ Lengkong selama satu jam, bisa memanfaatkan sejumlah sampan yang digerakkan dayung atau motor tempel. Riak gelombang kecil yang berlarian di kiri kanan perahu selama dalam perjalanan menjadi pelengkap pesona yang mengagumkan. Situ Lengkong mampu pula melahirkan atlet pedayung putri yang berprestasi di tingkat regional dan nasional. "Misalnya Etin Djubaedah, Hermin, Iros dan sejumlah pedayung yunior putri lainnya merupakan hasil berlatih di Situ Lengkong," ujar Letkol (purn) H. Muztahidin- wakil ketua KONI Ciamis.
Sikap Paheuyeuk leungeun untuk meningkatkan taraf hidup menjadi karakteristik warga Panjalu. Para perantau asal Panjalu bergerak di sektor wirausaha di Bandung, Jakarta dan kota besar lainnya. Kabag Pemdes Setda Ciamis, Drs. R. Hery Moelyana yang bibit buit Panjalu menyebutkan, umumnya para perantau asal Panjalu berhasil mengubah kehidupan dari sebelumnya.

Perantau awal biasa tinggal bersama saudara atau tetangga yang sudah lebih dahulu merantau. Setelah diangap cukup pengalaman kemudian di lepas untuk mandiri, malah di antaranya berikut diberi modal pertama sebagai hasil simpanan. Kontribusi pada pembangunan di desa asalnya sangat besar. "Mesjid agung di desa Hujungtiwu, Sukamantri dan beberapa desa lainnya bernilai ratusan juta rupiah, kesemuanya dibangun warga dengan swadaya," ujar R. Hery Moelyana bangga.

Pulau "Koorders"

Papan keterangan di gerbang masuk ke pulau "Koorders"

Dari luas areal Nusa Gede atau Nusa Panjalu, diantaranya sekitar 16 hektar merupakan kawasan cagar alam yang ditetapkan sejak tanggal 21-2-1919. Bahkan tanggal 16 November 1921 diberi nama "Pulau Koorders", penghormatan kepada "Koorders", sebagai pendiri dan ketua pertama perkumpulan perlindungan alam. Ia sendiri semasa masih hidup kerap berkunjung ke Panjalu. Menurut keterangan dari Balai Konservasi Sumber daya Alam (BKSDA) Jabar-II di Ciamis, Dr. Koorders adalah pendiri dan ketua pertama Nederlands Indische Vereeniging tot Naturbescherming (Perkumpulan Perlindungan Alam Hindia Belanda) tahun 1863-1991. Dia sebagai houtvester yang menaruh perhatian besar kepada botani. Tahun 1888 sampai tahun 1903 ia menomori pohon-pohon yang tersebar di seluruh pulau Jawa.

"Koorders" mengumpulkan bahan herbarium untuk menetapkan secara ilmiah komposisi dari hutan tropika. Penelitian itu dilakukan kerjasama dengan Th.Valeton, ahli botani. Hingga lahir karya besarnya yakni Bijdragen tot de kennis der boomsoorten van java (Sumbangan pengetahuan pohon-pohon dari Jawa).

Tanggal 31 Maret tahun itu juga, perkumpulan mengajukan permohonan kepada pemerintah, agar beberapa danau di Banten, Pulau Krakatau, Kawah Papandayan, Semenanjung Ujung Kulon di Jabar dengan Prinseneiland (Pulau Panaitan). Laut Pasir Bromo di Jatim, Pulau Nusa Burung di Semenanjung Purwo (Blambangan) ujung Timur Pulau Jawa, Kawah Ijen di dataran Ijen untuk dipertahankan sebagai cagar alam.

Menurut klasifikasi iklim Scmidt Ferguson, kawasan cagar alam Panjalu termasuk type B dengan curah hujan rata-rata 3.195 mm pertahun dengan suhu rata-rata 19-32 derajat celcius, vegetasi di situ sebagian besar hutan prime yang utuh. Tumbuhan yang ada terdiri "Kihaji" (Dysoxylum sp), "Kileho" (Sauraula Sp) "Kondang" (ficus variegata).

Tumbuhan di bagian bawah adalah rotan (Calamus Sp), tepus (Zingiberaceae) dan langkap (Arenga). Kalong (Pteropus vampyrus) merupakan fauna yang paling banyak dijumpai di sana, tupai (Calosciurus nigrittatus) dan burung hantu (Otus Scops).


Sumber: Koran Pikiran Rakyat

Selasa, 07 Oktober 2014

Nyangku 2007

Nyangku 2007 dilaksanakan pada tanggal 16 April 2007
Berikut beberapa cuplikan gambarnya



Rombongan pembawa pusaka sedang berangkat menuju Nusa Gede

Group Gembyung menyambut kedatangan rombongan di Nusa Gede. 

Masyarakat sudah menunggu kedantangan rombongan pembawa pusaka di lapangan alun-alun (taman Borosngora)


Para tamu dari rombongan Jajaka dan Mojang Ciamis berpose dengan Dede Yusuf

Edies Adela, Ica Afi, Riki Hermawan, Rico Garendra dll ikut meramaikan acara

Rombongan Artis , Dede Yusuf dan perwakilan dari keraton Cirebon tampak hadir 

Baca:

Selasa, 02 September 2014

Tempat-tempat ziarah di Panjalu

TEMPAT-TEMPAT ZIARAH DI PANJALU;

  1. Pasir Jambu / Nusa Gede situ lengkong Panjalu (pemakaman dan bekas kerajaan pada masa Prabu sanghyang Borosngora).
  2. Museum Bumi Alit Panjalu (tempat penyimpanan benda-benda pusaka perabot soko Galuh peninggalan leluhur Panjalu).
  3. Kapunduhan,Kertamandala Panjalu (pemakaman).
  4. Citatah,Dayeuhluhur (bekas kerajaan panjalu prabu sanghyang Cakradewa ayah dari Prabu Borosngora).
  5. Kubang Kelong,Sindangwangi Panjalu (pemakaman)
  6. Puspaligar,Ciater Panjalu (pemakaman).
  7. Pasarean Maparah Panjalu (pemakaman).
  8. Cilanglung Simpar Panjalu (pemakaman).
  9. Buninagara Simpar Panjalu (pemakaman)
  10. Hujungwinangun Sriwinangun Panjalu (pemakaman)
  11. Sareupeun,Hujungtiwu Panjalu (pemakaman).
  12. Ciramping Panjalu (pemakaman).
  13. Cipanjalu (pemakaman dan tujuh sumur sumber mata air).
  14. Panghulugusti,Ciomas Panjalu (pemakaman)
  15. Kulah Pangbuangan Garahang Panjalu (pemakaman).
  16. Nagasari,Hanjatan Ciomas Panjalu (bekas museum bumi alit).
  17. Kampuh jaya,Cilimus Panumbangan (pemakaman).
  18. Sukatingal (pemakaman).
  19. Munjul,Paricariang Panjalu (pemakaman).
  20. Gontot,Paricariang Panjalu (pemakaman).
  21. Pasir Cempaka,Paricariang Panjalu (pemakaman).
  22. Pasir Bangbara,Paricariang Panjalu (pemakaman).
  23. Situ Ciater Panjalu.
  24. Cibengan,Garahang Panjalu (pemakaman).
  25. Ranca Beureum / Pamulihan (pemakaman)
  26. Ciranca,Bunisakti,Maparah Panjalu (pemakaman).
  27. Sindangbarang,Panumbangan (pemakaman).
  28. Rancagaul,Tengger Panjalu (pemakaman).
  29. Citatah,Sandingtaman Panjalu (pemakaman).
  30. Cikabuyutan,Maparah Panjalu (pemakaman).
  31. Jakabaya,Bunusakti Maparah Panjalu (pemakaman).

Selasa, 01 Juli 2014

Nyangku 2006

Nyangku 2006 dilaksanakan pada tanggal 24 April 2006

Berikut cuplikan gambarnya

Bpk R H Atong Cakradina bersama pejabat dan tokoh masyarakat berjalan di depan rombongan pembawa pusaka.



Rombongan sedang memasuki komplek makam di Nusa Gede

Prosesi pencucian benda pusaka sedang berlangsung

Pertunjukan Debus dari Desa Bahara sedang berlangsung untuk menghibur masyarakat.

Baca:


Rabu, 05 Maret 2014

Nyangku 2002

Nyangku 2002

Para pengawal siap mengawal iring-iringan rombongan pembawa pusaka

Pusaka sudah dikeluarkan dari ruang penyimpanan untuk dibawa  (kanan: R.A Purnawan Cakradinata (alm), kiri: H. Uce)

Barisan ibu-ibu pembawa air dengan bambu untuk prosesi pencucian


Siap-siap menyebrang ke Nusa gede

Dengan menaiki tangga rombongan menuju komplek pemakaman di Nusa Gede. Tampak Bpk Solihin (mantan Gubernur Jabar) ikut rombongan.

Setelah memanjatkan do'a untuk para leluhur, rombongan kembali lagi.

Panggung bambu tempat pencucian



Beberapa pusaka sedang dalam proses pembungkusan setelah dicuci.

Baca: