Acara Nyangku di Alun-alun

Acara Nyangku di Alun-alun

Senin, 04 Desember 2017

Kisah Aria Sacanata : Ketika Kumis Sultan Agung Dicukur Ludas Bupati Panjalu

Salah satu kisah menarik yang mulai samar terlupakan adalah sepak terjang tokoh kharismatik bernama Raden Aria Sacanata yang merupakan turunan ke lima atau udeg-udeg dari Prabu Borosngora. 
Ayahnya adalah Dipati Natabaya  sedangkan ibunya bernama Apun Emas, putri dari Maharaja Kawali dan Apunianjung (dalam Legenda Panji Boma dikenal dengan nama Nyi Anjung Sari, dalam versi cerita yang berbeda).
Tokoh ini memiliki riwayat hidup yang luar biasa karena terkenal dengan keberanian dan kesaktiannya. Aria Sacanata menjabat sebagai bupati Panjalu sementara mewakili keponakannya yang masih kecil bernama Aria Wirabaya, putra dari Aria Sumalah, kakaknya yang meninggal saat menjabat bupati Panjalu. 
 Saat itu Panjalu merupakan bagian dari Kesultanan Cirebon yang tunduk kepada Mataram. Ketika keponakannya menginjak remaja maka diutuslah ia ke Mataram untuk seba upeti. Namun Sultan Mataram langsung melantik Aria Wirabaya menjadi bupati Panjalu tanpa sepengetahuan Aria Sacanata yang kemudian merasa tersinggung.
 Bukan karena masalah tahta, karena keponakannya memang berhak atas jabatan Bupati, namun cara Sultan Mataram dianggap tidak menghargainya dan telah mempermalukannya. 
 Karena sakit hati Aria Sacanata pergi ke Gandakerta dan bertapa di pohon Soka dengan posisi Waringin Sungsang yaitu kaki di atas dan kepala di bawah. Dalam tapanya selama tiga tahun, Aria Sacanata memohon diberikan kedigjayaan dan bersumpah  agar keturunananya menjadi bupati-bupati di tatar Priangan. Setelah berhasil Aria Sacanata tinggal di kediaman mertuanya, Sinuhun Ciburuy di Talaga, wilayah kerajaan Majalengka saat ini.
 Suatu waktu, mertuanya mengutus dirinya untuk seba ke Mataram. Maka digunakanlah kesempatan itu untuk membalas sakit hatinya kepada Sultan Mataram. Setibanya di keraton Mataram, Arya Sacanata menggunakan aji halimunan untuk  menyelinap ke lingkungan kraton Mataram. Ketika sang sinuhun terlelap di peraduannya Aria Sacanata mencukur kumis dan rambut Sinuhun hanya bagian kanannya saja sehingga tampang sultan Mataram ini menjadi aneh dan lucu.

Singkat cerita, Sang Sinuhun murka. Semua bupati Sunda yang hadir pada acara seba diperiksa. Cirebon pun dituduh, namun menolak dan melemparkan tuduhan terhadap Talaga yang mengutus Aria Sacanata. Ketika hendak ditangkap, Aria Sacanata sudah menghilang. Mataram pun segera mengirimkan pasukannya untuk mencari dan membekuknya.
 Namun  usaha itu sia-sia, walau pernah berpapasan dan menangkapnya, Aria Sacanata berhasil melepaskan diri dengan mengaku bernama Aria Salingsingan. (Dalam bahasa Sunda (pa)Salingsingan artinya (ber)papas an).
Lambat laun setelah puas mempermainkan Sang Sinuhun dan pasukannya, Aria Sacanata pun menyerahkan diri,  dan langsung dijatuhi hukuman mati dengan cara dijadikan peluru meriam sundut.  Eksekusi pun berlangsung di Alun-alun keraton dan disaksikan banyak orang. Tubuh Aria Sacanata yang diikat rantai segera dimasukan ke lubang meriam yang telah siap dinyalakan.
 Tak lama kemudian ledakan dahasyat pun terdengar diiringi dengan terlontarnya tubuh Aria Sacanata ke angkasa. Namun dengan kesaktiannya ketika mendarat ternyata tubuhnya masih utuh dan tidak terluka sama sekali bahkan mampu berdiri sambil bertolak pinggang dan tertawa terbahak-bahak, kemudian menghilang di tengah kerumunan orang yang masih terpana melihat kejadian itu.
 Tokoh Aria Sacanata diperkirakan hidup antara tahun 1550-1600 M, sejaman dengan Panembahan Ratu yang menjadi Sultan Cirebon, dan Geusan Ulun yang berkuasa di Sumedang sekitar tahun 1570 -1580.
Sumber: https://sportourism.id

Selasa, 10 Oktober 2017

Melihat Perkembangan Peta Indonesia

Cukup menarik melihat penampakan kepulauan Indonesia dilihat dari peta yang ditulis oleh para penjelajah.

Menurut Marco Polo, pulau terbesar di dunia adalah pula Jawa. Seperti yang terlihat di peta yang dibuatnya di bawah ini.


Abraham Ortellius, kartografer dan geografer sohor asal Belgia, pernah menerbitkan selembar peta berjudul Indiæ Orientalis pada 1570. Peta itu menggambarkan wilayah Asia Tenggara berikut dengan tata letak pulau-pulaunya.

Dia merupakan kartografer pertama yang berpendapat bahwa awalnya benua menjadi satu kemudian terpecah-pecah hingga menemui wujudnya seperti sekarang.

Lantaran minimnya informasi dari penjelajah, Ortellius menampilkan Pulau Jawa berbentuk bulat dengan sisi selatan yang cembung. Bahkan dalam peta itu Pulau Jawa sekitar dua kali lebih luas ketimbang Borneo (baca: Kalimantan).


Salah satu petualang asal Venesia yang tersohor dan kerap menjadi referensi para kartografer adalah Marco Polo. Dia berkisah tentang perjalanannya ke Asia Tenggara pada abad ke-13.

Meskipun banyak pihak meragukan kisah perjalanannya, beberapa kartografer abad ke-16 dan ke-17 tetap menggunakan toponimi dari pemberian Marco Polo.

Celakanya, Marco Polo juga memberikan penggambaran yang absurd tentang Jawa. Populer dengan nama Java Major “Pulau terbesar di dunia,” demikian bentuk Jawa menurut Marco Polo yang berdasar dari “testimoni pelaut-pelaut yang tahu banyak tentang hal itu.”

Para penjelajah Portugis yang menyambangi Nusantara sebelum kedatangan Belanda, punya persepsi sendiri tentang Jawa.

Berdasar kisah penghuni pulau tersebut mereka mendapatkan informai bahwa di tengah pulau terdapat gugusan gunung yang melintang dari Barat ke Timur.

Keadaan geografi itu telah menghentikan komunikasi antara kawasan pantai Utara dan Selatan. Akibatnya, pelaut Portugis mengurungkan niat untuk segera menjelajahi sisi Selatan pesisir Jawa.

Misteri rupa pesisir Selatan Jawa terpecahkan pada 1580. Francis Drake, seorang pelaut dan politikus Inggris yang mengelilingi dunia pada 1577 sampai dengan 1580, berjejak di pesisir Selatan Jawa.

Seusai menjelajahi kepulauan Maluku dan melewati celah Timor, Drake dan krunya menyusuri jalur Selatan dan mendarat di suatu tempat di pesisir Selatan Jawa—tampaknya Cilacap.

Kemudian peta berjudul Insulæ Indiæ Orientalis karya kartografer Jodocus Hondius terbit pada 1606. Dia menggambar pesisir Selatan Jawa hanya dengan garis putus-putus, namun menyisakan garis tegas yang membentuk teluk untuk kawasan pelabuhannya.

Hondius menorehkan catatan kecil di titik tersebut, “Huc Franciscus Dra. Appulit,” yang menandai tempat Drake membuang sauhnya.

Sejak terbitnya peta Hondius itu, misteri rupa pesisir Selatan Jawa mulai terungkap. Peta-peta setelahnya memberikan gambaran utuh tentang sebuah pulau yang pernah populer di kalangan penjelajah samudra dengan nama Java Major.

Peta Asia Tenggara Insulæ Indiæ Orientalis karya kartografer Jodocus Hondius terbit tahun 1606. Dalam peta ini Hondius membuat catatan berlabuhnya Francis Drake di Cilacap, menandai berakhirnya teka-teki rupa pesisir selatan Jawa, juga bentuk sesungguhnya pulau itu.


Peta Jawa masa awal abad 17 yang dibuat jaman Belanda ketika Belanda baru mendarat pertama kalinya di Batavia (baca: Jakarta sekarang), dimana hanya pantai Utara dari Pulau Java yang dikenali dengan baik

Peta Jawa dengan detail yang mendekati aslinya dan dengan gambaran pesisir Selatan yang akurat dibuat kemudian oleh Henri Chatelain pada tahun 1718: Carte de l'Ile de Java: Partie Occidentale, Partie Orientale, Dressee tout Nouvellement (Map of the island of Java: Part Western, Eastern Part, all newly compiled)

Peta Pulau Jawa yang lebih akurat lagi dibuat oleh Dr. F. Junghuhn pada tahun 1860 dan diperbaiki lagi pada tahun 1866


Peta jalur kereta api di Pulau Jawa yang dibuat pada tahun 1893



Sabtu, 23 September 2017

Jadwal Upacara Nyangku Tahun 2017

Jadwal Upacara Nyangku Tahun 2017

nyangku panjalu 2017

Insya Allah Upacara Nyangku tahun 2017 M (1439 H) 
akan dilaksanakan pada hari Senin tanggal 18 Desember 2017
atau bertepatan dengan tanggal 29 Rabi'ul Awwal 1439 H
di Taman Borosngora Panjalu Ciamis.
Lihat: Rundown acara Nyangku 2017

Kamis, 10 Agustus 2017

Perkawinan Seni Tradisi di Pulau Koorders


KOMPAS/ DEDI MUHTADI
Warga Sukamantri di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, menggelar seni tradisional bebegig pada puncak acara tradisional Nyangku di Desa Panjalu, Ciamis, Senin, 26 Desember 2016. Seni tradisional bebegig merupakan seni tradisi yang bersumberkan pada kearifan lokal yang telah dilestarikan selama ratusan tahun untuk menjaga sumber mata air.



Perkawinan Seni Tradisi di Pulau Koorders


Masyarakat Panjalu di kaki Gunung Sawal, Ciamis, Jawa Barat, sudah berpuluh tahun melestarikan upacara tradisional Nyangku yang maknanya membersihkan diri dan menerangi ( nyaangan) kehidupan. Seiring bergulirnya zaman, ritual itu meneguhkan perkawinan beragam seni budaya.
Pada ritual Nyangku tahun 1438 H yang digelar Senin, 26 Desember 2016 lalu, tiga seni utama menjadi pembuka yakni buta kararas tilas, bebegig, dan wayang landung Panjalu. Namun, festival budaya yang berlangsung sejak 22 Desember itu menampilkan pula tradisi samida, genta kahuripan, dan seni tradisional Sunda lainnya. Selain itu, digelar pula tradisi bernuansa agama, seperti Mauludan Pemerintah Desa Panjalu, seni-seni religi, debus, dan memuncak pada ritual Nyangku. Nyangku, yang diisi dengan ritual sakral mencuci benda-benda pusaka, tetap jadi nomor satu. Sementara aneka seni bu- daya lainnya jadi pendukung meski akhirnya pergelaran itu menjadi perkawinan aneka seni tradisi Sunda pada khususnya, dan Nusantara pada umumnya. 
Puncak ritual adat Nyangku biasa dilakukan hari Senin atau Kamis di akhir bulan Mulud Tahun Hijriah. ”Festival tahun ini agak inovatif. Tak hanya upacara sakral Nyangku, tapi seni-seni di seantero Ciamis sedapat mungkin ditampilkan. Malah tahun lalu seni rakyat Lampung ditampilkan di Panjalu,” ujar Ketua Panitia Nyangku 2016 Asep Rahmat ditemui di Panjalu. Prosesi ritual adat itu dihadiri ribuan orang sehingga berkembang menjadi pesta rakyat yang menumbuhkan perekonomian lokal. Ratusan pedagang setempat dan pedagang musiman memanfaatkan pesta rakyat untuk mengais rezeki. ”Ritual ini memberikan manfaat bagi perekonomian setempat. Begitu pula bagi Situ Lengkong yang merupakan obyek wisata minat khusus ziarah,” ujar Bupati Ciamis Iing Syam Arifin. Pemangku Adat Panjalu, R Hendar R Cakradinata, menambahkan, tradisi Nyangku dalam bahasa Sunda adalah nyaangan atau menerangi kehidupan dengan melihat sejarah dan memperbaiki perilaku ke depan. Tujuannya agar kehidupan lebih baik lagi mulai dari ekonomi, sosial budaya, hingga tata lingkungan.

Pulau Koorders
Panjalu merupakan sebuah desa sekaligus ibu kota Kecamatan Panjalu, berlokasi sekitar 35 kilometer utara Ciamis. Kecamatan ini terletak di kaki Gunung Sawal yang berjarak sekitar 100 kilometer dari Bandung. Warga Panjalu, selain masyarakat agraris, juga dikenal sebagai warga yang kreatif dan ulet. Banyak di antara mereka bergerak di bidang perdagangan (terutama besi) yang memenuhi sentra-sentra kerajinan logam di Bandung. Menurut cerita rakyat yang dibukukan Djadja Sukardja (2001), Panjalu adalah bekas Kerajaan Sunda yang diperintah secara turun-temurun oleh raja keturunan Raja Galuh sekitar abad ke-8 Masehi (menurut catatan kebudayaan abad ke-15). Masyarakat di desa itu menyimpan berbagai cerita dan peninggalan leluhur yang terus dipertahankan. Tradisi Nyangku merupakan kearifan lokal dalam melestarikan lingkungan. Salah satunya dengan menjaga air Situ Lengkong, danau seluas 67 hektar yang diyakini bekas keraton Kerajaan Panjalu. Di tengah danau terdapat sebuah pulau atau Nusa Gede seluas 16 hektar yang juga disebut Pulau Koorders. 
Dalam ritual setempat, ada tradisi mengambil air dari tujuh sumber mata air untuk membersihkan benda-benda pusaka. Makna dari tradisi ini adalah warga Panjalu wajib menjaga sumber-sumber air itu karena mata air adalah penyangga kehidupan. Salah satu mata air itu adalah Situ Lengkong. ”Kawasan konservasi ini juga mempunyai nilai historis tinggi karena diabadikan dengan nama seseorang yang dianggap berjasa oleh Pemerintahan Hindia Belanda, yakni Dr Koorders,” tulis Pandji Yudistira Kusumasumantri, Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Ciamis-Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat. Sijfret Hendrik Koorders merupakan perintis dan pelopor perlindungan alam. Ia membidani lahirnya Perkumpulan Perlindungan Alam Hindia Belanda pada 22 Juli 1912. Sebagai penghormatan atas jasanya, pada tahun 1921 Pemerintah Hindia Belanda mengubah nama Monumen Alam (MA) Pulau Nusa Gede di Danau Panjalu (Situ Lengkong sekarang) menjadi Pulau Koorders dan MA Koorders. Selama 98 tahun (1919-2017), untungnya kelestarian Cagar Alam Pulau Koorders itu masih terpelihara dengan baik.

Menjaga mata air
Pemerhati budaya Sunda, yang juga Wakil Rektor I Institut Agama Islam Latifah Mubaroqiyah, Pesantren Suryalaya Tasikmalaya, Asep Salahudin, menjelaskan, dalam tradisi masyarakat Situ Lengkong perpaduan mistik Sunda dan Islam sangat kental. Beragam seni tradisi yang ditampilkan pun berbasis kearifan lokal, terutama terkait kelestarian lingkungan. Misalnya, seni bebegig dari Sukamantri, kecamatan pemekaran dari Panjalu. Sukamantri yang terletak di kaki Gunung Madati pada ketinggian 1.059-1.200 meter di atas permukaan laut kebetulan juga merupakan sumber air bagi wilayah di bawahnya. Leluhur Sukamantri, yakni Prabu Sampulur, penguasa wilayah itu ratusan tahun lalu, khawatir sumber air itu diganggu. Lalu, ia membuat bebegig, topeng serupa makhluk menyeramkan. Topeng-topeng kulit kayu itu dipasang di pohon-pohon besar di sekitar sumber air utama, Karang Gantungan. Konon, karena kesaktian Sang Prabu, orang yang berniat jahat melihat topeng itu bagaikan makhluk menyeramkan. Hingga kini, warga Sukamantri pun terus memelihara kearifan lokal itu. Demikian juga seni serumpunnya, yakni buta (makhluk raksasa) kararas (daun pisang kering), dan wayang landung Panjalu. Kedua seni ini memanfaatkan dedaunan dan kayu-kayuan yang tidak terpakai. Malah pada seni buta kararas ada tanaman tertentu yang harus ditanam bila sudah dipakai. Tanaman seperti singkong itu kemudian dapat ditanam melalui potongan batangnya. ”Dengan dijadikan properti seni, kami berharap generasi muda melestarikan tanaman ini karena daun dan bunganya dibutuhkan,” ungkap tokoh budaya Panjalu, Mang Ganda (60).

Sumber https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20170211/282046211844607

Senin, 10 Juli 2017

Foto-Foto Situ Lengkong Panjalu

Di bawah ini ditampilkan beberapa foto panorama situ Lengkong Panjalu yang diambil menggunakan drone.
[ Klik Untuk memperbesar ]
Situ Lengkong Panjalu
Rombongan pembawa pusaka tiba di gerbang Situ Lengkong Panjalu pada saat upacara Nyangku
Situ Lengkong Panjalu
Iring-iringan perahu yang membawa pusaka ke Nusa Gede pada saat upacara Nyangku

Situ Lengkong Panjalu
Jalan menuju Nusa Pakel

Situ Lengkong Panjalu
Nusa Pakel dan Nusa Gede

Situ Lengkong Panjalu
Perahu yang sedang mengelilingi Nusa Gede

Situ Lengkong Panjalu
Nusa Gede dilihat dari atas
Situ Lengkong Panjalu
Nusa Gede dilihat dari atas

Terlihat 3 buah pulau: Nusa Gede (kiri), Nusa Hujungwinangun (kanan) dan Nusa Pakel (bawah) 

Situ Lengkong Panjalu
Tempat pengunjung naik perahu

Situ Lengkong Panjalu
Bangunan yang menaungi makan Hariang Kencana di tengah Nusa Gede dilihat dari udara.

Situ Lengkong Panjalu
Dari gerbang Hujungwinangun sampai Nusa Pakel terdapat jalan untuk pejalan kaki

Sabtu, 24 Juni 2017

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438H
Taqabbalallahu Minna Wa Minkum
Semoga Allah SWT mengijinkan kita bejumpa dengan Ramadhan selanjutnya
dengan kualitas yang lebih baik. Aamiin


Senin, 01 Mei 2017

Makan Leluhur dan tokoh Panjalu

Di bawah ini beberapa tempat peristirahatan (makan ) beberapa leluhur dan tokoh Panjalu.

1. Makam Prabu Hariang Kencana yang merupakan putera dari Pangeran Borosngora di Nusa Gede

hariang kencana

2. Makam Raden Tumenggung Cakranagara II di Puspaligar, Panjalu

Raden Dalem Cakranagara


3. Makam Raden Dalem Cakranagara III di Nusa Gede Situ Lengkong Panjalu.
    Hidup th 1765-1853



3. Makan Raden Sumawijaya, putra dari Cakranagara III bupati Panjalu Terakhir di Nusa Gede Situ Lengkong Panjalu


Di nisannya tertulis: 
RADEDN DEMANG SUMAWIJAYA
DEMANG PANJALU
PUTRA DARI
RADEN DALEM CAKRANAGARA III
BUPATI PANJALU TERAKHIR


4. Makam R. H. Atong Tjakradinata bin R. H. Ghalib Tjakradinata di Puspaligar Panjalu
    Lahir 28 Maret 1927, meninggal 5 April 2015.
Atong Tjakradinata