Acara Nyangku di Alun-alun

Acara Nyangku di Alun-alun

Selasa, 20 September 2016

Badak Asal Karangnunggal Tasikmalaya

Badak Karangnunggal yang diawetkan di Museum Bogor
Pada tahun 1914 di daerah Karangnunggal Tasikmalaya hidup sepasang Badak Jawa atau  Badak bercula-satu kecil (Rhinoceros sondaicus), namun kemudian diketahui badak betina dibunuh pemburu gelap sehingga badak jantan yang sudah tua dan tidak mungkin dipindahkan ke Cagar Alam Ujungkulon berkumpul dengankerabatnya yang dulu jumlahnya tidak mencapai 50 ekor seperti sekarang ini,atau urban ke kebun binatang diputuskan untuk diburu demi ilmu pengetahuan serta koleksi museum zoologi, karena jika dibiarkan tetap di habitat yang tidak tepat maka badak tersebut kemungkinan bernasib sama dengan yang betina. 

Perburuan terhadap binatang herbivora ini tidak pernah berhenti, nilai ekonomis sebuah cula menjadi pemicu para pemburu gelap untuk terus menerus membantainya. Di penangkaran pun Badak Jawa yang dulu sering ditafsirkan sebagai Badak India tidak bernasib lebih baik, oleh sebab itu tidak satupun satwa yang dulu kulitnya digunakan untuk membuat baju baja tentara Tiongkok dikoleksi kebun binatang. Badak Jawa yang hidup di kebun binatang atau penangkaran pada tahun 1800-n hingga 1907 tidak menunjukkan perkembangan yang signifikan, bahkan usia badak yang ditangkarkan hanya mencapai usia 20 tahun, separuh dari usia yang bisa dicapai jika badak hidup di habitat aslinya.
Badak Jawa terakhir yang ditembak di Karangnunggal
Dengan pertimbangan-pertimbangan itulah maka pada tahun 1934 lebih tepatnya pada tanggal 31 Januari para petugas dari museum berhasil menembak mati badak yang sebatang kara itu dengan sebutir peluru Mauser kal 9.3 dan membawa satwa langka yang berbobot 2280 kg serta memiliki ukuran panjang sekitar  3,1–3,2 m dan tinggi 1,4–1,7 m ini ke Pusat Penelitian Biologi, LIPI. Hingga kini Satwa asal Karangnunggal Tasikmalaya terpajang dalam sebuah kotak kaca di Museum Zoologi Bogor, berdiri kaku… menatap tanpa ucap. Kitalah yang harus berucap“deudeuh teuing, dak”.



Penyebaran Badak Jawa
Badak jawa ini merupakan satwa langka yang jumlah dan penyebarannya sangat terbatas. Di Indonesia rhino ini hanya terdapat di bagian barat pulau Jawa, tepatnya di kawasan hutan Taman Nasional Ujung Kulon (untuk selanjutnya Taman Nasional disingkat menjadi TN). Kawasan hutan TN Ujung Kulon berada pada daerah administratif  Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten.

Di Indonesia, badak Jawa dahulu diperkirakan tersebar di Pulau Sumatera dan Jawa. Di Sumatera saat itu badak Jawa tersebar di Aceh sampai Lampung. Di Pulau Jawa, badak Jawa pernah tersebar luas diseluruh Jawa. Badak Jawa kini hanya terdapat di Ujung Kulon, Banten.

1833 masih ditemukan di Wonosobo,
1834 di Nusakambangan, 1866 di Telaga Warna,
1867 di Gunung Slamet,
1870 di Tangkuban Perahu,
1880 di sekitar Gunung Gede Pangrango,
1881 di Gunung Papandayan,
1897 di Gunung Ceremai
1912 masih dijumpai di sekitar daerah Kerawang.
Frank pada tahun 1934 telah menembak seekor badak Jawa jantan dari Karangnunggal di Tasikmalaya, sekarang specimennya disimpan di Museum Zoologi Bogor. Menurut catatan merupakan individu terakhir yang dijumpai di luar daerah Ujung Kulon.

Badak Jawa yang terbunuh tahun 1895 oleh pemburu Eropa
Sedangkan penyebaran di luar negeri menurut catatan pernah ada di kawasan hutan Negara Vietnam, namun sekarang tidak pernah ditemukan lagi dan dinyatakan sudah punah. Dengan demikian Rhino Jawa ini dapat dikatakan sebagai satwa langka endemik Banten. Yang dimaksud dengan endemik ini berarti satwa asli dan hanya dapat ditemui disuatu daerah saja dalam hal ini di daerah Banten.

Pada tahun 1910 badak Jawa sebagai binatang liar secara resmi telah dilindungi Undang-Undang oleh Pemerintah Hindia Belanda, sehingga pada tahun 1921 berdasarkan rekomendasi dari The Netherlands Indies Society for Protection of Nature, Ujung Kulon oleh pemerintah dinyatakan sebagai Cagar Alam. Keadaan ini masih berlangsung terus sampai status Ujung Kulon diubah menjadi Suaka Margasatwa di bawah pengelolaan Jawatan Kehutanan dan Taman Nasional pada tahun 1982.

Upacara Nyangku tahun 2016 dilaksanakan dua kali

Tahun 2016 ini sepertinya tahun yang unik bagi masyarakat Panjalu dan sekitarnya, karena di tahun yang sama diselenggarakan festival budaya Nyangku sebanyak 2 kali. Nyangku yang pertama telah dilaksanakan pada tanggal 4 Januari 2016 silam, dan yang kedua akan dilaksanakan pada tanggal 26 Desember 2016 nanti.

Hal ini disebabkan karena festival budaya Nyangku dilaksanakannya didasarkan pada kalender Hijriyah, yaitu pada setiap bulan Maulid (Rabiul Awal), sedangkan bulan Maulid tahun ini jatuh pada bulan Januari awal, karena tahun Hijriyah lebih sedikit 10 hari, bulan Maulid tahun hijrah berikutnya jatuh pada bulan Desember di tahun Masehi yang sama (2016).

Karena bertepatan dengan liburan panjang (libur sekolah, libur Natal dan tahun baru) diprediksikan acara Nyangku yang kedua di tahun ini akan lebih meriah dari acara Nyangku yang pertama. Kita tunggu saja rangkaian acara yang akan diumumkan pihak pantia.

Lihat juga:
Jadwal acara Nyangku 2016 (pertama)
Nyangku 2016
Nyangku jaman Belanda
Bumi Alit Panjalu
Upacara Nyangku


Kamis, 01 September 2016

Festival Budaya Nyangku Panjalu 2016

Rundown Acara Festival Budaya Nyangku Panjalu  Bulan Desember 2016


26 September s/d 4 Nopember 2016
Pengambilan Tirta Kahuripan Untuk Upacara Nyangku

12-27 Desember 2016
Bazar di depan pasar dan terminal Panjalu

22 Desember 2016
08.00 - Selesai
SAMIDA Helaran seni budaya dan pengajian

23 Desember 2016
14.00-17.00
Prosesi penyerahan tirta kahuripan untuk upacara nyangku

25 Desember 2016
08.00 - selesai
Mauludan Pemdes di Taman Borosngora

26 Desember 2016
Upacara Nyangku
Helaran Budaya
Prosesi Pencucian Pusaka

27 Desember 2016
Pembersihan Pusaka


Motocross
24-25 Desember 2016

Sabtu, 16 April 2016

Makam Orang Belanda di Nusa Gede

Di Nusa Gede atau Nusa  Larang atau pulau Koorders pulau di tengah-tengah situ Lengkong, selain makam-makam para bangsawan panjalu, terdapat satu makam pejabat kolonial Belanda yang bernama Willem Hendrik Andreas Thilo seorang asisten residen daerah Galuh dan Kuningan. Pada nisannya tertulis sbb:

Beliau meninggal dunia pada tanggal 5 Februari 1832 dalam usia yang masih muda yaitu 31 tahun 5 bulan. Penyebab meninggalnya karena terjatuh dari kuda pada tanggal 28 November 1831.

Tetapi apakah nissan tersebut masih ada atau sudah tidak ada, perlu dicari di Nusa Larang.
Menurut penuturan alm Bapak Atong Cakradinata, ketika tentara Jepang jiarah ke Nusa Larang mereka memberi hormat ke makam Hariang Kencana, tetapi ketika dikatakan kepada mereka bahwa ada juga makan orang Belanda, tentara Jepang langsung naik pitam dan langsung memerintahkan untuk menghancurkannya. Belum jelas apakah yang dihancurkan itu nisan Mr Thilo di atas.
Jalan masuk ke komplek pemakaman Nusa Gede  saat ini (2016).



Makam Hariang Kencana Situ Lengkong Panjalu
Makam Hariang Kencana saat ini


Nusa gede situ Lengkong Panjalu
Jalan masuk ke komplek pemakaman Nusa Gede tahun 1920.

Nusa gede situ Lengkong Panjalu
Jalan masuk ke komplek pemakaman Nusa Gede tahun 1925.


Baca juga:

Jumat, 15 April 2016

Melihat Panjalu Jaman Hindia Belanda (Bagian 3)

Dalam gambar terlihat 2 orang perempuan Belanda di dermaga situ. Dermaga masih terbuat dari anyaman bambu. Mungkin sedang menunggu perahu datang. Diambil tahun 1924.








Empat orang Belanda sedang berlayar menggunakan perahu/rakit gandengan yang diberi atap. Terlihat seorang penduduk lokal sedang mengendalikan perahunya. Diambil tahun 1924.







Tiga orang Belanda sedang berlayar dengan dibantu oleh 4 orang penduduk lokal. Sepertinya diambil fotonya dari daratan. Jenis perahunya sama dengan foto yang di atas Diambil 31 Mei 1917.

Selasa, 12 April 2016

Melihat Panjalu Jaman Hindia Belanda (Bagian 2)

Situ Lengkong Panjalu sejak jaman Belanda sudah menjadi salah satu tujuan wisata di daerah Priangan selain Garut. Dalam buku GIDS VAN BANDOENG EN MIDDEN-PRIANGAN terbitan tahun 1927 situ Panjalu (Meer Van Pandjaloe) dapat diakses dengan mobil dari Bandung kurang lebih 4 jam melalui Cicalengka, Nagrek, Blubur, LImbangan, Malangbong, Ciawi dan Panjalu dengan jarak 99 Km. Maka tidak heran situ Lengkong sudah mendapat liputan yang banyak dari turis yang berkunjung ke sana. Pada jaman itu foto-foto keindahan situ Lengkong menghiasi buku, majalah dan kartu pos pada saat itu.

Tercatat orang terkenal yang telah mengunjungi situ Panjalu adalah Louis Couperus, seorang novelis Belanda yang berkunjung pada tahun 1921. Beliau melukiskan dalam tulisannya pada tahun 1923 bahwa situ Panjalu lebih tenang daripada situ Bagendit. Tentang museum Louis Couperus bisa dilihat di sini. Juga pelukis berdarah Perancis dan Indonesia Ernest Dezentje pernah berkunjung ke sini pada tahun 1919 dan mengabadikan keindahan situ Panjalu pada lukisan kanvas (lihat di bawah).

Di bawah ini beberapa foto situ Lengkong pada masa kolonial.

Gambar di samping ini adalah lukisan tentang situ Lengkong tahun 1850. Ini merupakan gambar yang paling tua yang pernah saya jumpai.










Gambar diambil dari sudut dekat pintu gerbang utama.


















Gambar di samping adalah gambar situ Lengkong pada  kartu pos berwarna tahun 1909. Kartu pos diprint berwarna dan berkualitas bagus. Gambar diambil dari sudut pintu gerbang menuju bibir situ. Di pinggir situ terlihat gubuk tempat mengambil ikan.

Gambar di samping adalah gambar situ Lengkong pada  kartu pos hitam putih. Diperkirakan lebih lama daripada kartu pos yang di atas. Gambar diambil dari sudut yagn sama dengan kartu pos di atas, tapi tidak terlihat jalan menuju bibir situ.














Kartu pos dengan gambar kakek-kakek penduduk lokal yang sedang mencari ikan pada tahun 1920. Perahu yang dipakai berbentuk kayu gelondongan yang dilubangi.








Gambar di samping adalah lukisan di atas canvas tahun 1919 dalam ukuran 43 x 63cm. Di depan tampak jalan menuju bibir situ tapi di bawah tidak terlihat saung. Dilukis oleh Ernest Dezentje tahun 1919 . Ernest Dezentjé dilahirkan di Jatinegara Jakarta tanggal 17 Agustus 1884. Ayahnya merupakan seorang warganegara Belanda keturunan Perancis yang menjadi pengusaha pabrik gula, sedangkan ibunya seorang Indonesia. Dezentjé merupakan seorang pelukis otodidak yang mulai melukis pada usia 30 tahun.

Senin, 11 April 2016

Melihat Panjalu Jaman Hindia Belanda (Bagian 1)

Dalam tulisan ini saya akan menampilkan foto-foto pemandangan dan peristiwa yang terjadi di Panjalu. Silakan bagi pembaca yang mempunyai informasi yang lebih lengkap dan tepat mengenai foto yang ditampilkan di sini bisa memberi masukan kepada kami melalui alamat email panjalumaju[at]gmail.com. [at] ganti dengan @.

Gambar di samping ini adalah peta Panjalu dan sekitarnya keluaran tahun 1924. Nama-nama desa sekitar Panjalu sama dengan nama desa/kampung yang sekarang. Di situ Lengkong masih terlihat nusa Pakel masih berbentuk pulau yang kecil, sedangkan sekarang sudah tidak terlihat sebagai pulai lagi. Jalan utama baik yang menuju Panumbangan, Cibeureum maupun ke Kawali sama dengan yang sekarang. Letak alun-alun tidak berubah sampai sekarang. Yang beda adalah di depan alun-alun (dekat Balai Desa) ada jalan yang cukup besar yang sekarang menjadi jalan sempit. Bagian yang hijau adalah daerah yang terdapat hunian/perumahan.


Gambar di samping ini adalah suasana sedang diadakan sebuah upacara pada tahun 1924 di Alun-alun. Tidak ada keterangan apakah ini upacara penyambutan pejabat atau hanya acara sekolah. Di tengah-tengah terlihat seperti seorang komandan upacara yang di kiri-kanannya ada anak-anak seragam sekolah yang sedang berbaris dengan membawa sebuah tongkat. Beberapa buah bendera merah putih biru berkibar. Kalau dilihat dari lokasinya ada di alun-alun. Komandan membelakangi rumah yang cukup besar (sepertinya sekolah, SD sekarang ) dan di belakangnya lagi telihat gunung Sawal, Di sebelah kiri tampak pohon beringin. Apakah pohon beringin ini adalah pohon beringin yang ada di tengah-tengah alun-alun sekarang? 

Gambar di samping ini sepertinya kerumunan rakyat ketika mendengarkan pejabat/gegeden pada tahun 1924. Lokasinya sama dengan gambar di atas yaitu di alun-alun, karena dari kejauhan terlihat bangunan sekolah dan pohon beringin yang ada di tengah-tengah alun-alun juga sedikit terlihat disebelah kiri. Di sebelah kanan terlihat bangunan dari anyaman bambu dan terdapat tulisan KANTOR. Tidak jelas apakah itu kantor kecamatan atau kantor desa. Terlihat seorang pejabat berdiri menghadap rakyat yang di atasnya terdapat atap atau tenda. Dari banyaknya rakyat yang membawa bendera Belanda sepertinya sedang kedatangan pejabat Belanda/Kolonial.

Foto-foto lainnya terkait kunjungan Pejabat di atas:




Beberapa foto masyarakan Panjalu sedang mengadakan pawai

Pemandangan situ Lengkong dilihat dari Pesanggrahan



Foto-foto di atas sepertinya terkait dengan kunjungan Residen Batavia G.J. ter Poorten yang berkunjung ke Panjalu tahun 1924. G.J. ter Poorten ini setelah bertugas di Batavia lalu dipindahkan ke Surabaya menggantikan Residen Surabaya secara sementara yang ditinggalkan H.J Bussemaner karena cuti selama 8 bulan untuk perjalanan ke Belanda.

Pada tgl 1 November 1930 Bussermaker aktif kembali, sementara itu G. J. ter Poorten  mendapat promosi baru sebagai Residen Priangan Timur yang berkedudukan di Tasikmalaya.

Foto-foto lain terkait Kunjungan G. J. ter Poorten

situ lengkong, panjaluGambar di samping diduga G. J. ter Poorten dengan keluarganya yang sedang menginap di Panjalu di Pesanggrahan depan situ Lengkong. Pesanggrahan ini kerap dijadikan sebagai hotel/wisma bagi tamu-tamu asing. Sepertinya bangunan ini sekarang sudah tidak ada, tapi pesanggrahan menjadi nama jalan masuk ke situ Lengkong. 

Gambar di samping diduga G. J. ter Poorten dengan keluarganya dalam perjalanan pulang setelah kunjungan ke Panjalu.