Acara Nyangku di Alun-alun

Acara Nyangku di Alun-alun

Sabtu, 16 April 2016

Makam Orang Belanda di Nusa Gede

Di Nusa Gede atau Nusa  Larang atau pulau Koorders pulau di tengah-tengah situ Lengkong, selain makam-makam para bangsawan panjalu, terdapat satu makam pejabat kolonial Belanda yang bernama Willem Hendrik Andreas Thilo seorang asisten residen daerah Galuh dan Kuningan. Pada nisannya tertulis sbb:

Beliau meninggal dunia pada tanggal 5 Februari 1832 dalam usia yang masih muda yaitu 31 tahun 5 bulan. Penyebab meninggalnya karena terjatuh dari kuda pada tanggal 28 November 1831.

Tetapi apakah nissan tersebut masih ada atau sudah tidak ada, perlu dicari di Nusa Larang.
Menurut penuturan alm Bapak Atong Cakradinata, ketika tentara Jepang jiarah ke Nusa Larang mereka memberi hormat ke makam Hariang Kencana, tetapi ketika dikatakan kepada mereka bahwa ada juga makan orang Belanda, tentara Jepang langsung naik pitam dan langsung memerintahkan untuk menghancurkannya. Belum jelas apakah yang dihancurkan itu nisan Mr Thilo di atas.
Jalan masuk ke komplek pemakaman Nusa Gede  saat ini (2016).



Makam Hariang Kencana Situ Lengkong Panjalu
Makam Hariang Kencana saat ini


Nusa gede situ Lengkong Panjalu
Jalan masuk ke komplek pemakaman Nusa Gede tahun 1920.

Nusa gede situ Lengkong Panjalu
Jalan masuk ke komplek pemakaman Nusa Gede tahun 1925.


Baca juga:

Jumat, 15 April 2016

Melihat Panjalu Jaman Hindia Belanda (Bagian 3)

Dalam gambar terlihat 2 orang perempuan Belanda di dermaga situ. Dermaga masih terbuat dari anyaman bambu. Mungkin sedang menunggu perahu datang. Diambil tahun 1924.








Empat orang Belanda sedang berlayar menggunakan perahu/rakit gandengan yang diberi atap. Terlihat seorang penduduk lokal sedang mengendalikan perahunya. Diambil tahun 1924.







Tiga orang Belanda sedang berlayar dengan dibantu oleh 4 orang penduduk lokal. Sepertinya diambil fotonya dari daratan. Jenis perahunya sama dengan foto yang di atas Diambil 31 Mei 1917.

Selasa, 12 April 2016

Melihat Panjalu Jaman Hindia Belanda (Bagian 2)

Situ Lengkong Panjalu sejak jaman Belanda sudah menjadi salah satu tujuan wisata di daerah Priangan selain Garut. Dalam buku GIDS VAN BANDOENG EN MIDDEN-PRIANGAN terbitan tahun 1927 situ Panjalu (Meer Van Pandjaloe) dapat diakses dengan mobil dari Bandung kurang lebih 4 jam melalui Cicalengka, Nagrek, Blubur, LImbangan, Malangbong, Ciawi dan Panjalu dengan jarak 99 Km. Maka tidak heran situ Lengkong sudah mendapat liputan yang banyak dari turis yang berkunjung ke sana. Pada jaman itu foto-foto keindahan situ Lengkong menghiasi buku, majalah dan kartu pos pada saat itu.

Tercatat orang terkenal yang telah mengunjungi situ Panjalu adalah Louis Couperus, seorang novelis Belanda yang berkunjung pada tahun 1921. Beliau melukiskan dalam tulisannya pada tahun 1923 bahwa situ Panjalu lebih tenang daripada situ Bagendit. Tentang museum Louis Couperus bisa dilihat di sini. Juga pelukis berdarah Perancis dan Indonesia Ernest Dezentje pernah berkunjung ke sini pada tahun 1919 dan mengabadikan keindahan situ Panjalu pada lukisan kanvas (lihat di bawah).

Di bawah ini beberapa foto situ Lengkong pada masa kolonial.

Gambar di samping ini adalah lukisan tentang situ Lengkong tahun 1850. Ini merupakan gambar yang paling tua yang pernah saya jumpai.










Gambar diambil dari sudut dekat pintu gerbang utama.


















Gambar di samping adalah gambar situ Lengkong pada  kartu pos berwarna tahun 1909. Kartu pos diprint berwarna dan berkualitas bagus. Gambar diambil dari sudut pintu gerbang menuju bibir situ. Di pinggir situ terlihat gubuk tempat mengambil ikan.

Gambar di samping adalah gambar situ Lengkong pada  kartu pos hitam putih. Diperkirakan lebih lama daripada kartu pos yang di atas. Gambar diambil dari sudut yagn sama dengan kartu pos di atas, tapi tidak terlihat jalan menuju bibir situ.














Kartu pos dengan gambar kakek-kakek penduduk lokal yang sedang mencari ikan pada tahun 1920. Perahu yang dipakai berbentuk kayu gelondongan yang dilubangi.








Gambar di samping adalah lukisan di atas canvas tahun 1919 dalam ukuran 43 x 63cm. Di depan tampak jalan menuju bibir situ tapi di bawah tidak terlihat saung. Dilukis oleh Ernest Dezentje tahun 1919 . Ernest Dezentjé dilahirkan di Jatinegara Jakarta tanggal 17 Agustus 1884. Ayahnya merupakan seorang warganegara Belanda keturunan Perancis yang menjadi pengusaha pabrik gula, sedangkan ibunya seorang Indonesia. Dezentjé merupakan seorang pelukis otodidak yang mulai melukis pada usia 30 tahun.

Senin, 11 April 2016

Melihat Panjalu Jaman Hindia Belanda (Bagian 1)

Dalam tulisan ini saya akan menampilkan foto-foto pemandangan dan peristiwa yang terjadi di Panjalu. Silakan bagi pembaca yang mempunyai informasi yang lebih lengkap dan tepat mengenai foto yang ditampilkan di sini bisa memberi masukan kepada kami melalui alamat email panjalumaju[at]gmail.com. [at] ganti dengan @.

Gambar di samping ini adalah peta Panjalu dan sekitarnya keluaran tahun 1924. Nama-nama desa sekitar Panjalu sama dengan nama desa/kampung yang sekarang. Di situ Lengkong masih terlihat nusa Pakel masih berbentuk pulau yang kecil, sedangkan sekarang sudah tidak terlihat sebagai pulai lagi. Jalan utama baik yang menuju Panumbangan, Cibeureum maupun ke Kawali sama dengan yang sekarang. Letak alun-alun tidak berubah sampai sekarang. Yang beda adalah di depan alun-alun (dekat Balai Desa) ada jalan yang cukup besar yang sekarang menjadi jalan sempit. Bagian yang hijau adalah daerah yang terdapat hunian/perumahan.


Gambar di samping ini adalah suasana sedang diadakan sebuah upacara pada tahun 1924 di Alun-alun. Tidak ada keterangan apakah ini upacara penyambutan pejabat atau hanya acara sekolah. Di tengah-tengah terlihat seperti seorang komandan upacara yang di kiri-kanannya ada anak-anak seragam sekolah yang sedang berbaris dengan membawa sebuah tongkat. Beberapa buah bendera merah putih biru berkibar. Kalau dilihat dari lokasinya ada di alun-alun. Komandan membelakangi rumah yang cukup besar (sepertinya sekolah, SD sekarang ) dan di belakangnya lagi telihat gunung Sawal, Di sebelah kiri tampak pohon beringin. Apakah pohon beringin ini adalah pohon beringin yang ada di tengah-tengah alun-alun sekarang? 

Gambar di samping ini sepertinya kerumunan rakyat ketika mendengarkan pejabat/gegeden pada tahun 1924. Lokasinya sama dengan gambar di atas yaitu di alun-alun, karena dari kejauhan terlihat bangunan sekolah dan pohon beringin yang ada di tengah-tengah alun-alun juga sedikit terlihat disebelah kiri. Di sebelah kanan terlihat bangunan dari anyaman bambu dan terdapat tulisan KANTOR. Tidak jelas apakah itu kantor kecamatan atau kantor desa. Terlihat seorang pejabat berdiri menghadap rakyat yang di atasnya terdapat atap atau tenda. Dari banyaknya rakyat yang membawa bendera Belanda sepertinya sedang kedatangan pejabat Belanda/Kolonial.

Foto-foto lainnya terkait kunjungan Pejabat di atas:




Beberapa foto masyarakan Panjalu sedang mengadakan pawai

Pemandangan situ Lengkong dilihat dari Pesanggrahan



Foto-foto di atas sepertinya terkait dengan kunjungan Residen Batavia G.J. ter Poorten yang berkunjung ke Panjalu tahun 1924. G.J. ter Poorten ini setelah bertugas di Batavia lalu dipindahkan ke Surabaya menggantikan Residen Surabaya secara sementara yang ditinggalkan H.J Bussemaner karena cuti selama 8 bulan untuk perjalanan ke Belanda.

Pada tgl 1 November 1930 Bussermaker aktif kembali, sementara itu G. J. ter Poorten  mendapat promosi baru sebagai Residen Priangan Timur yang berkedudukan di Tasikmalaya.

Foto-foto lain terkait Kunjungan G. J. ter Poorten

situ lengkong, panjaluGambar di samping diduga G. J. ter Poorten dengan keluarganya yang sedang menginap di Panjalu di Pesanggrahan depan situ Lengkong. Pesanggrahan ini kerap dijadikan sebagai hotel/wisma bagi tamu-tamu asing. Sepertinya bangunan ini sekarang sudah tidak ada, tapi pesanggrahan menjadi nama jalan masuk ke situ Lengkong. 

Gambar di samping diduga G. J. ter Poorten dengan keluarganya dalam perjalanan pulang setelah kunjungan ke Panjalu.































Nyangku Jaman Belanda

Barangkali foto-foto di bawah ini adalah dokumentasi upacara Nyangku yang paling tua yang saya temui. Dimuat dalam sebuah buku bahasa Belanda terbitan tahun 1938. Dalam buku tersebut diceritakatan tentang legenda Sanghyang Borosngora dan kronologis upacara Nyangku. Hanya saja di sana tidak disebutkan secara langsung tentang istilah "Nyangku". Entah sejak kapan istilah Nyangku ini digunakan. 

Memang tentang keindahahan situ Lengkong Panjalu banyak sekali turis-turis yang mendokumentasikannya, tetapi upacara Nyangku ini relatif tidak ada yang mendokumentasikan dengan baik. Barangkali karena tanggal dan harinya tertentu dan publikasi masih kurang sehingga tidak banyak yang meliput. 

Nyangku Panjalu jaman Belanda
Para pembawa pusaka sedang iring-irngan ke tempat pencucian pusaka (alun-alun)

Nyangku Panjalu jaman Belanda
Pusaka utama (pedang) sudah dibuka dan siap untuk dicuci.
Tidak jelas siapa yang memegang pedang tsb,
mungkin bapak kuwu  Nur Rohman Galib ? (orang tua Bpk Atong Cakradinata)

Pedang Sanghyang Borosngora yang disebut-sebut pemberian dari Sayyidina Ali.
Didokumentasikan tahun 1863-1864 oleh Isidore van Kinsbergen (1821-1905)

Bumi alit Panjalu  jaman Belanda
Lokasi Bumi Alit di jaman Belanda. Terlihat dikelilingi pagar dan pepohonan.
Diambil dari salah satu majalah Hindia Belanda bulan Juli 1921.

Bumi alit Panjalu  jaman Belanda
Bagian dalam ruangan Bumi alit pada jaman Hindia Belanda.
Dindingnya terbuat dari anyaman bambu (bilik).
Pusaka ditempatkan di rak yang digantung dan ditutupi dengan tirai kain.
Tampak seorang kuncen sedang duduk, yang pada waktu itu seorang perempuan.
Diambil dari salah satu majalah Hindia Belanda bulan Juli 1921.

Selasa, 29 Maret 2016

Hikayat Sanghyang Borosngora

Prabu Cakradewa dikaruniai enam orang anak: tiga orang putera dan tiga orang puteri, yaitu:
1.Prabu Sanghyang Lembu Sampulur II
2.Prabu Sahyang Borosngora
3.Sanghyang Panji Barani /Kiyai Santang
4.Ratu Mamprang Kancana Artaswayang
5.Ratu Pundut Agung
6.Ratu Anggarunting

Diantara putra-putrinya itu Prabu Borosngora dipandang memiliki bakat dan keperibadian yang layak memegang tahta kerajaan. Disadari bahwa ilmu dan pengalaman
putranya itu belum matang untuk memikul beban dan tanggung jawabnya sebagi raja, karena itu beliau mengharapkan calon pewaris/penerima tahta ini dapat membina
diri. Memiliki ilmu yang berguna bagi anak cucu generasi mendatang, yakni ilmu hakiki (sejati) yang dapat membawa keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia
dan akhirat.

Semula Prabu Borosngora diberi tugas ayahnya sebagi Senopati kerajaan yang bertanggung jawab atas keamanaan, ketertiban dan keutuhan di wilayah kerajaan.
Tugas tersebut dijalankan Prabu Borosngora dengan baik dan mendapat sanjungan dari berbagi pihak terutama dari kalangan keraton.Dalam pada itu Prabu Sanghyang Cakradewa terdorong usia lanjut serta keinginan bertapa meninggalkan segala kehidupan duniawi, bermaksud turun dari tahta kerajaan. Beliau memanggil Prabu
Borosngora serta kemudian memerintahkan untuk segera berangkat mencari ilmu membina diri sebagai syarat bekal tanggung jawabnya sebagi raja. Atas petunjuk dan restu dari ayahnya segera Prabu Borosngoro berkemas pergi meninggalkan keraton berkelana mendatangi berbagi perguruan di tatar pulau Jawa.

Dalam menjalankannya ini beliau teringat akan tugasnya saat ini sebagi senopati kerajaan, beliau berpandangan bahwa untuk keperluan melindungi rakyat dan negara
dari berbagi rupa ancaman musuh, harus memiliki ilmu-ilmu kesaktian yang unggul yang disegani lawan. Dengan dasar pandangan itu ia kemudian mandatangi
perguruan-perguruan terkemuka, pendeta-pendeta linuhung, dan resi-resi termasyhur . Selanjutnya beliau membina diri dengan mengkombinasikan ilmu-ilmu tersebut
dengan pengembangan potensi dirinya. Hasil kreasi mandiri hingga menyatu sebagai kekuatan tunggal dirinya.

Kemampuan itu ia uji sendiri dengan menjajal siapapun yang dianggap orang paling sakti baik itu kesaktria, pendekar ataupun para pendeta dan para resi di seantero
Tatar Pulau Jawa.Setelah tak seorangpun para pendekar mampu menghalangkan barulah ia merasa puas dan bermaksud pulang ke Negeri Panjalu.Karena diyakini bahwa apa yang diharapkan ayahnya telah dapat ia penuhi. Kedatangan Prabu Boronsngora disambut gembira ayahnya (Prabu Cakradewa), keluarga dan kerabat keraton dan termaksud para kepentingan-kepentingan ksatria kerajaan.

Sebagai ugkapan kegembiraan dalam acara tahunan kerajaan digelar pesta dan menampilkan berbagai atraksi antara lain : Atraksi “Baksa” diselingi demonstrasi latih tanding keterampilan beladiri para ksatria. Pada acara ini Prabu Borosnongora diberi kesempatan pertama bersama kakaknya Prabu Lembu Sampulur II, maju ke gelanggang latih tanding. Dengan disaksikan para keluarga, kerabat keraton dan tamu undangan yang hadir. Dua ksatria kakak beradik ini menampilkan teknik-teknik bela diri “tingkat-tinggi” yang memukau. Sorak sorai dan tepuk tangan yang meriah. Rasa gembira kerabat keraton terhenti, ketika pada satu gerakan tertentu Prabu Borosngora menarik kain yang dipakainya telihat pada betis kirinya suatu rajah (tato) sebagi tanda (cap) Perguruan Kesaktian (Kewedukan dan kedugalan) dari Ujung Kulon Banten Selatan.

Setelah acara selesai, diantara kerabat keraton, mengadukan kejadian ini kepada Raja Prabu Cakradewa. Segera Prabu Cakradewa memanggi Prabu Borosngora untuk meminta pejelasan tentang kebenaran laporan pengaduan tersebut itu dihadapan ayahnya Prabu Borosngora mengakui adanya tanda rajah (tato) itu segera menyadari kealpaannya. Selanjutnya ia mengutarakan maksud pemilikan ilmu itu tak lain hanya untuk kepentingan bela Negara.

Dengan arif bijaksana Prabu Cakradewa memaklumi apa yang diutarakan putranya prabu Borosngora itu namun segera beliau jelaskan, bahwa memiliki ilmu dan kesaktian lahiriah (kedugalan, kewedukan) apapun jenis, sifat dan tujuannya adalah terlarang bagi warga Panjalu. Karena bertentangan dengan ajaran (papagon) Kerahayuan. Dijelaskan pula bahwa ilmu yang harus dimiliki adalah ilmu sempurna yang hakiki (sejati) yang hanya memiliki pemahaman dan pengalaman, dengan ilmu itulah kesejaahteraan hakiki yang abadi dapat tercapai dan ilmu itu pula yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan generasi umat mendatang.

Prabu Cakradewa selanjutnya memerintahkan Prabu Borosngora untuk kembali berangkat dan mencari ilmu yang dimaksud hingga tercapai, dimanapun ilmu itu berada.
Prabu Cakradewa menyatakan bahwa ilmu itu ada, dan putranya bisa mencarinya. Menyusul perintah itu Prabu Cakradewa memberikanan Gayung Bungbas (gayung kerancang / gayung lobang-lobang pada alasannya) kepada Prabu Borosngora dengan perintah bahwa ia (Prabu Borosngora) tidak boleh pulang sebelum mampu membawa air secara penuh pada gayung bungbas tersebut. Demikianlah perintah itu mengandung arti mencari ilmu dengan kriteria keberhasilannya diukur oleh kemampuan membawa air pada gayung yang berlubang-lubang disekelilingnya secara penuh tanpa tercecer setetespun.

Perintah itu disampaikan Prabu Cakradewa dengan penuh rasa kasih sayang, harapan dan keyakinan akan keberhasilannya. Dengan membawa gayung bungbas disertai restu ayahnya maka berangkatlah Prabu Borosngora kembali menjelajahi tatar pulau Jawa, mendatangi para Resi dan Pendeta Sakti berbagai perguruan termasyhur, namun tak satupun diantara mereka yang mampu memberi ilmu sebagimana yang diamanatkan ayahnya, bahkan ilmu-ilmu yang mereka meliki ternyata dibawa kemampuan Prabu Borosngora sendiri.

Beliau berpandangan bahwa pada orang yang mampu mengalahkannya saja ia akan beguru serta memperoleh keterangan tentang ilmu sejati yang ingin dipelajari itu, percobaan mengambil air dengan Gayung Bungbas itu melalui pergerakan segenap kesaktiannya tidak pernah berhasil, air tercecer mengalir deras hingga habis.

Kebuntuan langkah terbayang menganggu pikiran dan perasaannya, namun keyakinan berhasil sesuai petunjuk ayahnya mendorong semangat dan tekad Prabu Borosngora untuk berjuang mencari dan memiliki ajaran ilmu yang dimaksud, kapan dan dimanapun serta dengan konsekuensi apapun yang akan terjadi pada dirinya.

Dari Pulau Jawa ia menyeberangi Selat Sunda menuju Pulau Sumatera dan melalui jalur hubungan internasional ia sampai di Asia Barat serta selanjutnya ia terdampar di Padang Arafah, Saudi Arabia. Menghindari sengatan terik matahari ia berlindung pada suatu cekungan batu besar. Sambil beristirahat ia bersemedi memohon kepada Tuhan agar diberi petunjuk dan jalan kemudahan untuk memperoleh ilmu yang diharapkannya. Rasa frustasi kembali timbul, namun ia yakin tidak akan mungkin ayahnya akan mencelakakannya, sehingga semangatnya tumbuh dan sampai kemudian ia ditegur seorang tua berpakaian putih bersih dihiasi rambut dan janggut yang putih bersih pula.

Pandangan orang tua itu terpancar penuh rasa kasih sayang dengan tongkat ditangannya yang tertancap di pasir itu. Beliau menyapa Prabu Borosngora. Dengan serta merta Prabu Borosngora mengutarakan maksudnya mencari orang yang mampu mengalahkannya serta mencari petunjuk ilmu sejati orang yang mampu mengalahkannya serta mencari petunjuk ilmu sejati(hakiki) yang ia inginkan memilikinya.

Menanggapi sikap dan pemaparan Prabu Borosngora disambut orang tua itu dengan anggukan dan senyumnya kasih sayang. Dan segera beliau mengajak Prabu Borosngora menuju tempat tinggalnya. Baru beberapa langkah beliau menghentikannya diri dan melihat kebelakang karena tongkat yang dipegangnya tadi ketinggalan tertancap di tanah pasir itu. Prabu Borosngora memahami dengan segera mengambil tongkat tersebut dengan sebelah tangan, tetapi tak bisa dicabut, ia merasa heran dan setelah melihat penampilan orang tua itu yang malah tersenyum, sadarlah Prabu Borosngora bahwa ia kini telah diuji kesaktiannya. Prabu Borosngora kemudian mengerahkan segenap kemampuannya mencabut tongkat itu sehingga keluar butir-butir darah. Baginda Ali (Rodiallaahu ‘Anhu), Khalifah Ke IV setelah Nabi Besar Muhammad SAW. Prabu Borosngora mengutarakan maksudnya kedatangan akan kisah perjalanan di Jazirah Arab ini (apakah benar-benar beliau ketemu khalifah Ali RA atau ulama/syeh yang bernama Ali , sampai saat ini masih diperdebatkan).

Baginda Ali r-a memahami apa yang diutarakan Prabu Borosngora dan menjelaskan bahwa ilmu sejati yang dimaksud adalah ilmu-ilmu ajaran Islam. Sejak saat itu Prabu Borosngora Borosngora memeluk agama Islam dan mempelajari ilmu-ilmu ajaran Islam. Ia bermukmin di Makkah Al-Mukaromah atas petunjuk Sayidina Ali r-a.

Sementara di Panjalu, Prabu Sanghyang Cakradewa merasa resah berhubung kepergiaan Prabu Borosngora telah begitu lama belum juga kembali. Beberapa ksatria keraton termaksud adiknya Sanghyang Panji Barani diperintahkan untuk mencari tahu keberadaan Prabu Borosngora. Mereka berpencaran keseluruhan pelosok tatar Pulau Jawa, namun tak dirimukan petunjuk keberadaannya, meskipun demikian Sanghyang Cakradewa yakin bahwa Prabu Borosngora masih dan akan kembali ke Panjalu. Keinginan Prabu Sanghyang Cakradewa untuk turun tahta dan pergi bertapa tak dapat menunggu kedatangannya Prabu Borosngora. Beliau pergi pergi bertapa membangun tempat pertapaan di Cipanjalu sekitar 4 km arah utara kota Panjalu sekarang. Tahta kerajaan untuk sementara diserahkan kepada Prabu Lembu Sampulur.

Di Makkah setelah dipandang cukup menekuni ajaran dan ilmu-Ilmu keislaman, Prabu Borosngora bermaksud pulang ke Panjalu. Niatnya ini disampaikan kepada Baginda Ali r-a kemudian Cis dan pakaian kehajian pemberian Sayyidina Ali r-a dibawa ke Panjalu. Baginda Ali r-a memberi nama kehajian kepada prabu Borosngora yakni H. Abdul Iman lengkap dengan seperangkat pakaian kehajiannya.

Kedatangan Prabu Borosngora dengan ilmu ajaran Keislaman yang diperolehnya disambut gembira dan perasaan bangga oleh PrabuCakradewa yang kemudian memerintahkannnya untuk segera meletakkan dasar-dasar ajaran Keislaman sebagai pedoman hidup dan falsafah Kerajaan. Perintah itu diwujudkan dengan pengangkatan Prabu Borosngora sebagai Raja Soko Galuh Panjalu, disertai kelengkapan tugasnya memindahkan Ibu Kota Kerajaan dari Dayeuh Luhur ke areal Situ Lengkong Panjalu sebagimana terungkap pada Titah Sanghyang Cakradewa. Demikian sejak itu Prabu Borosngora sebagi Raja Soko Galuh Panjalu, sedang Prabu Lembu Sampulur II diserahi tugas memegang kekuasaan di wilayah Gunung Tampomas Sumedang hingga kemudian menurunkan raja-raja Sumedang sebelum keruntuhan Pajajaran.

Petunjuk yang diberikan Baginda Ali r-a kepada Prabu Borosngora adalah segera pulang ke Panjalu dan ajarakan Agama Islam. Sebagai “tand mata” Baginda Ali r-a memberikan barang perkakas berupa Pedang dan Ciss (tombak bermata dua) kepada Prabu Borosngora sebagai kelengkapan tugas dan perjuangannya menyebarkan Agam Islam. Selanjutnya Bagi Ali r-a menyuruh Prabu Borosngora untuk mengambil air zam-zam dengan gayung bungbas yang dibawanya. Ternyata atas izin Allah Swt, air zam-zam dapat ditampung dengan gayung tersebut. Atas petunjuk dan nasihat Baginda Syayidina Ali r-a berangkatlah Prabu Borosngora ke Panjalu.

Setibanya di Panjalu ternyata ayahnya Sanghyang Cakradewa telah meninggalkan Kerajaan di Dayeuh Luhur dan bertapa di Panjalu. Atas petunjuk dan saran Prabu
Lembu Sampulur II, Prabu borosngora kemudian berangkat menemui ayahnya dipertapaan Cipanjalu dengan membawa Gayung Bungbas yang penuh berisi air zam-zam dan pedang. Langkah pertama yang dilakukan Prabu Borosngora yaitu membendung Areal Legok Pasir Jambu hingga menjadi Situ (Danau) serta mencurahkan air zam-zam menyatu dengan air danau tersebut. Tanah yang tak terbendung berwujud Nusa (pulau Kecil) ditengah danau.

Terdapat tiga buah nusa pada areal situ lengkong yang masing-masing berfungsi sebagai bangunan kraton (Nusa Gede). Lokasi kepatihan dan Paseban Kraton(Nusa Hujung) dan taman buah-buahan di Nusa Pakel. Dari keraton Kepatihan dibangun jembatan penghubung yang terbuat dari balok-balok kayu yang dinamakan Cukang
Padung. Bagian Ibu Kota Kerajaan Panjalu yang dibangun Prabu Borosngora sebagimana berikut:
A.Istana Kerajaan, dikelilingi rumah para menteri dan punggawa Keraton nusa gede
B.Kepatihan dan Paseban Keraton di Nusa Pakel
C.Taman buah-buah di nusa Pakel

D.Jembatan Cukang Padung dengan dua Gerbang

Wangsit (Wasiat) Sanghyang Borosngora - Syeh Panjalu

Gunung teu beunang dilebur – [Gunung tidak boleh digunduli]
Lebak teu beunang diruksak – [Lereng tidak boleh dirusak
Larangan teu beunang dirempak – [Larangan tidak boleh dilanggar]
Buyut teu beunang dirobah – [Aturan tidak boleh dirubah]
Layar teu beunang dipotong –[ Layar tidak boleh dipotong]
Pondok teu beunang disambung – [Pendek tidak boleh disambung]

Nyaur kudu diukur – [Bertutur (kata) harus diukur]
Nyablama kudu diungang – [Berkata harus yang benar]
Ulah ngomong sageté-geté – [Jangan berbicara seenaknya]
Ulah lemék sadaék-daék – [Jangan berucap semaunya]
Ulah maling papayungan – [Jangan mencuri perlindungan]
Ulah zinah papacangan – [Jangan berzinah ketika berpacaran]

Kudu ngadék sasekna  nilas saplasna – [Harus memotong sewajarnya – menepas sebaik-baiknya]
Mipit kudu amit ngala kudu menta – [Memetik harus pamit – menuai harus minta (dulu) ]
Ngeduk cikur kudu mihatur – [Mengambil kencur harus dengan tutur (kata dulu)]
Ngagedak kudu bewara – [Memotong harus dengan pernyataan]

Nu lain kudu dilainkeun – [Yang lain harus dilainkan]
Nu ulah kudu diulahkaeun – [Yang tak boleh harus dilarang]
Nu enya kudu dienyakeun – [Yang benar harus dibenarkan ]
Ulah cueut kanu beureum – [Tidak boleh tertarik kepada yang merah]
Ulah ponténg kanu konéng – [Tidak boleh tertarik kepada yang kuning]

Karana lamun dirempak – [Karena kalau dilanggar]
Matak burung jadi ratu – [Akan busuk menjadi  ratu]
Matak édan jadi ménak – [Akan édan (gila) menjadi pejabat]
Matak pupul pangaweruh – [Akan habis  pengetahuan]
Matak hambar komara – [Akan jatuh wibawa]
Matak teu mahi juritna – [Akan kalah dalam pertempuran ]
Matak teu jaya perangna – [Tidak akan jaya dalam peperangan]
Matak sangar ka nagara. – [Akan (membawa) apes negara.]