Dalam gambar terlihat 2 orang perempuan Belanda di dermaga situ. Dermaga masih terbuat dari anyaman bambu. Mungkin sedang menunggu perahu datang. Diambil tahun 1924.
Empat orang Belanda sedang berlayar menggunakan perahu/rakit gandengan yang diberi atap. Terlihat seorang penduduk lokal sedang mengendalikan perahunya. Diambil tahun 1924.
Tiga orang Belanda sedang berlayar dengan dibantu oleh 4 orang penduduk lokal. Sepertinya diambil fotonya dari daratan. Jenis perahunya sama dengan foto yang di atas Diambil 31 Mei 1917.
Acara Nyangku di Alun-alun
Jumat, 15 April 2016
Selasa, 12 April 2016
Melihat Panjalu Jaman Hindia Belanda (Bagian 2)
Situ Lengkong Panjalu sejak jaman Belanda sudah menjadi salah satu tujuan wisata di daerah Priangan selain Garut. Dalam buku GIDS VAN BANDOENG EN MIDDEN-PRIANGAN terbitan tahun 1927 situ Panjalu (Meer Van Pandjaloe) dapat diakses dengan mobil dari Bandung kurang lebih 4 jam melalui Cicalengka, Nagrek, Blubur, LImbangan, Malangbong, Ciawi dan Panjalu dengan jarak 99 Km. Maka tidak heran situ Lengkong sudah mendapat liputan yang banyak dari turis yang berkunjung ke sana. Pada jaman itu foto-foto keindahan situ Lengkong menghiasi buku, majalah dan kartu pos pada saat itu.
Tercatat orang terkenal yang telah mengunjungi situ Panjalu adalah Louis Couperus, seorang novelis Belanda yang berkunjung pada tahun 1921. Beliau melukiskan dalam tulisannya pada tahun 1923 bahwa situ Panjalu lebih tenang daripada situ Bagendit. Tentang museum Louis Couperus bisa dilihat di sini. Juga pelukis berdarah Perancis dan Indonesia Ernest Dezentje pernah berkunjung ke sini pada tahun 1919 dan mengabadikan keindahan situ Panjalu pada lukisan kanvas (lihat di bawah).
Di bawah ini beberapa foto situ Lengkong pada masa kolonial.
Gambar di samping ini adalah lukisan tentang situ Lengkong tahun 1850. Ini merupakan gambar yang paling tua yang pernah saya jumpai.
Gambar diambil dari sudut dekat pintu gerbang utama.
Gambar di samping adalah gambar situ Lengkong pada kartu pos berwarna tahun 1909. Kartu pos diprint berwarna dan berkualitas bagus. Gambar diambil dari sudut pintu gerbang menuju bibir situ. Di pinggir situ terlihat gubuk tempat mengambil ikan.
Gambar di samping adalah gambar situ Lengkong pada kartu pos hitam putih. Diperkirakan lebih lama daripada kartu pos yang di atas. Gambar diambil dari sudut yagn sama dengan kartu pos di atas, tapi tidak terlihat jalan menuju bibir situ.
Kartu pos dengan gambar kakek-kakek penduduk lokal yang sedang mencari ikan pada tahun 1920. Perahu yang dipakai berbentuk kayu gelondongan yang dilubangi.
Gambar di samping adalah lukisan di atas canvas tahun 1919 dalam ukuran 43 x 63cm. Di depan tampak jalan menuju bibir situ tapi di bawah tidak terlihat saung. Dilukis oleh Ernest Dezentje tahun 1919 . Ernest Dezentjé dilahirkan di Jatinegara Jakarta tanggal 17 Agustus 1884. Ayahnya merupakan seorang warganegara Belanda keturunan Perancis yang menjadi pengusaha pabrik gula, sedangkan ibunya seorang Indonesia. Dezentjé merupakan seorang pelukis otodidak yang mulai melukis pada usia 30 tahun.
Tercatat orang terkenal yang telah mengunjungi situ Panjalu adalah Louis Couperus, seorang novelis Belanda yang berkunjung pada tahun 1921. Beliau melukiskan dalam tulisannya pada tahun 1923 bahwa situ Panjalu lebih tenang daripada situ Bagendit. Tentang museum Louis Couperus bisa dilihat di sini. Juga pelukis berdarah Perancis dan Indonesia Ernest Dezentje pernah berkunjung ke sini pada tahun 1919 dan mengabadikan keindahan situ Panjalu pada lukisan kanvas (lihat di bawah).
Di bawah ini beberapa foto situ Lengkong pada masa kolonial.
Gambar di samping ini adalah lukisan tentang situ Lengkong tahun 1850. Ini merupakan gambar yang paling tua yang pernah saya jumpai.
Gambar diambil dari sudut dekat pintu gerbang utama.
Gambar di samping adalah gambar situ Lengkong pada kartu pos berwarna tahun 1909. Kartu pos diprint berwarna dan berkualitas bagus. Gambar diambil dari sudut pintu gerbang menuju bibir situ. Di pinggir situ terlihat gubuk tempat mengambil ikan.
Gambar di samping adalah gambar situ Lengkong pada kartu pos hitam putih. Diperkirakan lebih lama daripada kartu pos yang di atas. Gambar diambil dari sudut yagn sama dengan kartu pos di atas, tapi tidak terlihat jalan menuju bibir situ.
Kartu pos dengan gambar kakek-kakek penduduk lokal yang sedang mencari ikan pada tahun 1920. Perahu yang dipakai berbentuk kayu gelondongan yang dilubangi.
Gambar di samping adalah lukisan di atas canvas tahun 1919 dalam ukuran 43 x 63cm. Di depan tampak jalan menuju bibir situ tapi di bawah tidak terlihat saung. Dilukis oleh Ernest Dezentje tahun 1919 . Ernest Dezentjé dilahirkan di Jatinegara Jakarta tanggal 17 Agustus 1884. Ayahnya merupakan seorang warganegara Belanda keturunan Perancis yang menjadi pengusaha pabrik gula, sedangkan ibunya seorang Indonesia. Dezentjé merupakan seorang pelukis otodidak yang mulai melukis pada usia 30 tahun.
Senin, 11 April 2016
Melihat Panjalu Jaman Hindia Belanda (Bagian 1)
Dalam tulisan ini saya akan menampilkan foto-foto pemandangan dan peristiwa yang terjadi di Panjalu. Silakan bagi pembaca yang mempunyai informasi yang lebih lengkap dan tepat mengenai foto yang ditampilkan di sini bisa memberi masukan kepada kami melalui alamat email panjalumaju[at]gmail.com. [at] ganti dengan @.
Gambar di samping ini adalah peta Panjalu dan sekitarnya keluaran tahun 1924. Nama-nama desa sekitar Panjalu sama dengan nama desa/kampung yang sekarang. Di situ Lengkong masih terlihat nusa Pakel masih berbentuk pulau yang kecil, sedangkan sekarang sudah tidak terlihat sebagai pulai lagi. Jalan utama baik yang menuju Panumbangan, Cibeureum maupun ke Kawali sama dengan yang sekarang. Letak alun-alun tidak berubah sampai sekarang. Yang beda adalah di depan alun-alun (dekat Balai Desa) ada jalan yang cukup besar yang sekarang menjadi jalan sempit. Bagian yang hijau adalah daerah yang terdapat hunian/perumahan.
Gambar di samping ini adalah suasana sedang diadakan sebuah upacara pada tahun 1924 di Alun-alun. Tidak ada keterangan apakah ini upacara penyambutan pejabat atau hanya acara sekolah. Di tengah-tengah terlihat seperti seorang komandan upacara yang di kiri-kanannya ada anak-anak seragam sekolah yang sedang berbaris dengan membawa sebuah tongkat. Beberapa buah bendera merah putih biru berkibar. Kalau dilihat dari lokasinya ada di alun-alun. Komandan membelakangi rumah yang cukup besar (sepertinya sekolah, SD sekarang ) dan di belakangnya lagi telihat gunung Sawal, Di sebelah kiri tampak pohon beringin. Apakah pohon beringin ini adalah pohon beringin yang ada di tengah-tengah alun-alun sekarang?
Gambar di samping ini sepertinya kerumunan rakyat ketika mendengarkan pejabat/gegeden pada tahun 1924. Lokasinya sama dengan gambar di atas yaitu di alun-alun, karena dari kejauhan terlihat bangunan sekolah dan pohon beringin yang ada di tengah-tengah alun-alun juga sedikit terlihat disebelah kiri. Di sebelah kanan terlihat bangunan dari anyaman bambu dan terdapat tulisan KANTOR. Tidak jelas apakah itu kantor kecamatan atau kantor desa. Terlihat seorang pejabat berdiri menghadap rakyat yang di atasnya terdapat atap atau tenda. Dari banyaknya rakyat yang membawa bendera Belanda sepertinya sedang kedatangan pejabat Belanda/Kolonial.
Foto-foto lainnya terkait kunjungan Pejabat di atas:
Beberapa foto masyarakan Panjalu sedang mengadakan pawai
Pemandangan situ Lengkong dilihat dari Pesanggrahan
Foto-foto di atas sepertinya terkait dengan kunjungan Residen Batavia G.J. ter Poorten yang berkunjung ke Panjalu tahun 1924. G.J. ter Poorten ini setelah bertugas di Batavia lalu dipindahkan ke Surabaya menggantikan Residen Surabaya secara sementara yang ditinggalkan H.J Bussemaner karena cuti selama 8 bulan untuk perjalanan ke Belanda.
Pada tgl 1 November 1930 Bussermaker aktif kembali, sementara itu G. J. ter Poorten mendapat promosi baru sebagai Residen Priangan Timur yang berkedudukan di Tasikmalaya.
Foto-foto lain terkait Kunjungan G. J. ter Poorten
Gambar di samping diduga G. J. ter Poorten dengan keluarganya yang sedang menginap di Panjalu di Pesanggrahan depan situ Lengkong. Pesanggrahan ini kerap dijadikan sebagai hotel/wisma bagi tamu-tamu asing. Sepertinya bangunan ini sekarang sudah tidak ada, tapi pesanggrahan menjadi nama jalan masuk ke situ Lengkong.
Gambar di samping diduga G. J. ter Poorten dengan keluarganya dalam perjalanan pulang setelah kunjungan ke Panjalu.Nyangku Jaman Belanda
Barangkali foto-foto di bawah ini adalah dokumentasi upacara Nyangku yang paling tua yang saya temui. Dimuat dalam sebuah buku bahasa Belanda terbitan tahun 1938. Dalam buku tersebut diceritakatan tentang legenda Sanghyang Borosngora dan kronologis upacara Nyangku. Hanya saja di sana tidak disebutkan secara langsung tentang istilah "Nyangku". Entah sejak kapan istilah Nyangku ini digunakan.
Memang tentang keindahahan situ Lengkong Panjalu banyak sekali turis-turis yang mendokumentasikannya, tetapi upacara Nyangku ini relatif tidak ada yang mendokumentasikan dengan baik. Barangkali karena tanggal dan harinya tertentu dan publikasi masih kurang sehingga tidak banyak yang meliput.
![]() |
| Para pembawa pusaka sedang iring-irngan ke tempat pencucian pusaka (alun-alun) |
![]() |
| Pusaka utama (pedang) sudah dibuka dan siap untuk dicuci. Tidak jelas siapa yang memegang pedang tsb, mungkin bapak kuwu Nur Rohman Galib ? (orang tua Bpk Atong Cakradinata) |
![]() |
| Pedang Sanghyang Borosngora yang disebut-sebut pemberian dari Sayyidina Ali. Didokumentasikan tahun 1863-1864 oleh Isidore van Kinsbergen (1821-1905) |
![]() |
| Lokasi Bumi Alit di jaman Belanda. Terlihat dikelilingi pagar dan pepohonan. Diambil dari salah satu majalah Hindia Belanda bulan Juli 1921. |
Selasa, 29 Maret 2016
Hikayat Sanghyang Borosngora
Prabu Cakradewa dikaruniai enam orang anak: tiga orang
putera dan tiga orang puteri, yaitu:
1.Prabu Sanghyang Lembu Sampulur II
2.Prabu Sahyang Borosngora
3.Sanghyang Panji Barani /Kiyai Santang
4.Ratu Mamprang Kancana Artaswayang
5.Ratu Pundut Agung
6.Ratu Anggarunting
Diantara putra-putrinya itu Prabu Borosngora dipandang
memiliki bakat dan keperibadian yang layak memegang tahta kerajaan. Disadari
bahwa ilmu dan pengalaman
putranya itu belum matang untuk memikul beban dan tanggung
jawabnya sebagi raja, karena itu beliau mengharapkan calon pewaris/penerima
tahta ini dapat membina
diri. Memiliki ilmu yang berguna bagi anak cucu generasi
mendatang, yakni ilmu hakiki (sejati) yang dapat membawa keselamatan dan
kesejahteraan hidup di dunia
dan akhirat.
Semula Prabu Borosngora diberi tugas ayahnya sebagi Senopati
kerajaan yang bertanggung jawab atas keamanaan, ketertiban dan keutuhan di
wilayah kerajaan.
Tugas tersebut dijalankan Prabu Borosngora dengan baik dan
mendapat sanjungan dari berbagi pihak terutama dari kalangan keraton.Dalam pada
itu Prabu Sanghyang Cakradewa terdorong usia lanjut serta keinginan bertapa
meninggalkan segala kehidupan duniawi, bermaksud turun dari tahta kerajaan.
Beliau memanggil Prabu
Borosngora serta kemudian memerintahkan untuk segera
berangkat mencari ilmu membina diri sebagai syarat bekal tanggung jawabnya
sebagi raja. Atas petunjuk dan restu dari ayahnya segera Prabu Borosngoro
berkemas pergi meninggalkan keraton berkelana mendatangi berbagi perguruan di
tatar pulau Jawa.
Dalam menjalankannya ini beliau teringat akan tugasnya saat
ini sebagi senopati kerajaan, beliau berpandangan bahwa untuk keperluan
melindungi rakyat dan negara
dari berbagi rupa ancaman musuh, harus memiliki ilmu-ilmu
kesaktian yang unggul yang disegani lawan. Dengan dasar pandangan itu ia
kemudian mandatangi
perguruan-perguruan terkemuka, pendeta-pendeta linuhung, dan
resi-resi termasyhur . Selanjutnya beliau membina diri dengan mengkombinasikan
ilmu-ilmu tersebut
dengan pengembangan potensi dirinya. Hasil kreasi mandiri
hingga menyatu sebagai kekuatan tunggal dirinya.
Kemampuan itu ia uji sendiri dengan menjajal siapapun yang
dianggap orang paling sakti baik itu kesaktria, pendekar ataupun para pendeta
dan para resi di seantero
Tatar Pulau Jawa.Setelah tak seorangpun para pendekar mampu
menghalangkan barulah ia merasa puas dan bermaksud pulang ke Negeri
Panjalu.Karena diyakini bahwa apa yang diharapkan ayahnya telah dapat ia
penuhi. Kedatangan Prabu Boronsngora disambut gembira ayahnya (Prabu
Cakradewa), keluarga dan kerabat keraton dan termaksud para
kepentingan-kepentingan ksatria kerajaan.
Sebagai ugkapan kegembiraan dalam acara tahunan kerajaan
digelar pesta dan menampilkan berbagai atraksi antara lain : Atraksi “Baksa”
diselingi demonstrasi latih tanding keterampilan beladiri para ksatria. Pada
acara ini Prabu Borosnongora diberi kesempatan pertama bersama kakaknya Prabu
Lembu Sampulur II, maju ke gelanggang latih tanding. Dengan disaksikan para
keluarga, kerabat keraton dan tamu undangan yang hadir. Dua ksatria kakak
beradik ini menampilkan teknik-teknik bela diri “tingkat-tinggi” yang memukau.
Sorak sorai dan tepuk tangan yang meriah. Rasa gembira kerabat keraton
terhenti, ketika pada satu gerakan tertentu Prabu Borosngora menarik kain yang
dipakainya telihat pada betis kirinya suatu rajah (tato) sebagi tanda (cap)
Perguruan Kesaktian (Kewedukan dan kedugalan) dari Ujung Kulon Banten Selatan.
Setelah acara selesai, diantara kerabat keraton, mengadukan
kejadian ini kepada Raja Prabu Cakradewa. Segera Prabu Cakradewa memanggi Prabu
Borosngora untuk meminta pejelasan tentang kebenaran laporan pengaduan tersebut
itu dihadapan ayahnya Prabu Borosngora mengakui adanya tanda rajah (tato) itu
segera menyadari kealpaannya. Selanjutnya ia mengutarakan maksud pemilikan ilmu
itu tak lain hanya untuk kepentingan bela Negara.
Dengan arif bijaksana Prabu Cakradewa memaklumi apa yang
diutarakan putranya prabu Borosngora itu namun segera beliau jelaskan, bahwa
memiliki ilmu dan kesaktian lahiriah (kedugalan, kewedukan) apapun jenis, sifat
dan tujuannya adalah terlarang bagi warga Panjalu. Karena bertentangan dengan
ajaran (papagon) Kerahayuan. Dijelaskan pula bahwa ilmu yang harus dimiliki
adalah ilmu sempurna yang hakiki (sejati) yang hanya memiliki pemahaman dan
pengalaman, dengan ilmu itulah kesejaahteraan hakiki yang abadi dapat tercapai
dan ilmu itu pula yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan generasi umat
mendatang.
Prabu Cakradewa selanjutnya memerintahkan Prabu Borosngora
untuk kembali berangkat dan mencari ilmu yang dimaksud hingga tercapai,
dimanapun ilmu itu berada.
Prabu Cakradewa menyatakan bahwa ilmu itu ada, dan putranya
bisa mencarinya. Menyusul perintah itu Prabu Cakradewa memberikanan Gayung
Bungbas (gayung kerancang / gayung lobang-lobang pada alasannya) kepada Prabu
Borosngora dengan perintah bahwa ia (Prabu Borosngora) tidak boleh pulang
sebelum mampu membawa air secara penuh pada gayung bungbas tersebut.
Demikianlah perintah itu mengandung arti mencari ilmu dengan kriteria
keberhasilannya diukur oleh kemampuan membawa air pada gayung yang
berlubang-lubang disekelilingnya secara penuh tanpa tercecer setetespun.
Perintah itu disampaikan Prabu Cakradewa dengan penuh rasa
kasih sayang, harapan dan keyakinan akan keberhasilannya. Dengan membawa gayung
bungbas disertai restu ayahnya maka berangkatlah Prabu Borosngora kembali
menjelajahi tatar pulau Jawa, mendatangi para Resi dan Pendeta Sakti berbagai
perguruan termasyhur, namun tak satupun diantara mereka yang mampu memberi ilmu
sebagimana yang diamanatkan ayahnya, bahkan ilmu-ilmu yang mereka meliki
ternyata dibawa kemampuan Prabu Borosngora sendiri.
Beliau berpandangan bahwa pada orang yang mampu
mengalahkannya saja ia akan beguru serta memperoleh keterangan tentang ilmu
sejati yang ingin dipelajari itu, percobaan mengambil air dengan Gayung Bungbas
itu melalui pergerakan segenap kesaktiannya tidak pernah berhasil, air tercecer
mengalir deras hingga habis.
Kebuntuan langkah terbayang menganggu pikiran dan perasaannya,
namun keyakinan berhasil sesuai petunjuk ayahnya mendorong semangat dan tekad
Prabu Borosngora untuk berjuang mencari dan memiliki ajaran ilmu yang dimaksud,
kapan dan dimanapun serta dengan konsekuensi apapun yang akan terjadi pada
dirinya.
Dari Pulau Jawa ia menyeberangi Selat Sunda menuju Pulau
Sumatera dan melalui jalur hubungan internasional ia sampai di Asia Barat serta
selanjutnya ia terdampar di Padang Arafah, Saudi Arabia. Menghindari sengatan
terik matahari ia berlindung pada suatu cekungan batu besar. Sambil
beristirahat ia bersemedi memohon kepada Tuhan agar diberi petunjuk dan jalan
kemudahan untuk memperoleh ilmu yang diharapkannya. Rasa frustasi kembali
timbul, namun ia yakin tidak akan mungkin ayahnya akan mencelakakannya, sehingga
semangatnya tumbuh dan sampai kemudian ia ditegur seorang tua berpakaian putih
bersih dihiasi rambut dan janggut yang putih bersih pula.
Pandangan orang tua itu terpancar penuh rasa kasih sayang
dengan tongkat ditangannya yang tertancap di pasir itu. Beliau menyapa Prabu
Borosngora. Dengan serta merta Prabu Borosngora mengutarakan maksudnya mencari
orang yang mampu mengalahkannya serta mencari petunjuk ilmu sejati orang yang
mampu mengalahkannya serta mencari petunjuk ilmu sejati(hakiki) yang ia inginkan
memilikinya.
Menanggapi sikap dan pemaparan Prabu Borosngora disambut
orang tua itu dengan anggukan dan senyumnya kasih sayang. Dan segera beliau
mengajak Prabu Borosngora menuju tempat tinggalnya. Baru beberapa langkah
beliau menghentikannya diri dan melihat kebelakang karena tongkat yang
dipegangnya tadi ketinggalan tertancap di tanah pasir itu. Prabu Borosngora
memahami dengan segera mengambil tongkat tersebut dengan sebelah tangan, tetapi
tak bisa dicabut, ia merasa heran dan setelah melihat penampilan orang tua itu
yang malah tersenyum, sadarlah Prabu Borosngora bahwa ia kini telah diuji
kesaktiannya. Prabu Borosngora kemudian mengerahkan segenap kemampuannya
mencabut tongkat itu sehingga keluar butir-butir darah. Baginda Ali
(Rodiallaahu ‘Anhu), Khalifah Ke IV setelah Nabi Besar Muhammad SAW. Prabu
Borosngora mengutarakan maksudnya kedatangan akan kisah perjalanan di Jazirah
Arab ini (apakah benar-benar beliau ketemu khalifah Ali RA atau ulama/syeh yang
bernama Ali , sampai saat ini masih diperdebatkan).
Baginda Ali r-a memahami apa yang diutarakan Prabu
Borosngora dan menjelaskan bahwa ilmu sejati yang dimaksud adalah ilmu-ilmu
ajaran Islam. Sejak saat itu Prabu Borosngora Borosngora memeluk agama Islam
dan mempelajari ilmu-ilmu ajaran Islam. Ia bermukmin di Makkah Al-Mukaromah
atas petunjuk Sayidina Ali r-a.
Sementara di Panjalu, Prabu Sanghyang Cakradewa merasa resah
berhubung kepergiaan Prabu Borosngora telah begitu lama belum juga kembali.
Beberapa ksatria keraton termaksud adiknya Sanghyang Panji Barani diperintahkan
untuk mencari tahu keberadaan Prabu Borosngora. Mereka berpencaran keseluruhan
pelosok tatar Pulau Jawa, namun tak dirimukan petunjuk keberadaannya, meskipun
demikian Sanghyang Cakradewa yakin bahwa Prabu Borosngora masih dan akan
kembali ke Panjalu. Keinginan Prabu Sanghyang Cakradewa untuk turun tahta dan
pergi bertapa tak dapat menunggu kedatangannya Prabu Borosngora. Beliau pergi
pergi bertapa membangun tempat pertapaan di Cipanjalu sekitar 4 km arah utara
kota Panjalu sekarang. Tahta kerajaan untuk sementara diserahkan kepada Prabu
Lembu Sampulur.
Di Makkah setelah dipandang cukup menekuni ajaran dan
ilmu-Ilmu keislaman, Prabu Borosngora bermaksud pulang ke Panjalu. Niatnya ini
disampaikan kepada Baginda Ali r-a kemudian Cis dan pakaian kehajian pemberian
Sayyidina Ali r-a dibawa ke Panjalu. Baginda Ali r-a memberi nama kehajian
kepada prabu Borosngora yakni H. Abdul Iman lengkap dengan seperangkat pakaian
kehajiannya.
Kedatangan Prabu Borosngora dengan ilmu ajaran Keislaman
yang diperolehnya disambut gembira dan perasaan bangga oleh PrabuCakradewa yang
kemudian memerintahkannnya untuk segera meletakkan dasar-dasar ajaran Keislaman
sebagai pedoman hidup dan falsafah Kerajaan. Perintah itu diwujudkan dengan
pengangkatan Prabu Borosngora sebagai Raja Soko Galuh Panjalu, disertai
kelengkapan tugasnya memindahkan Ibu Kota Kerajaan dari Dayeuh Luhur ke areal
Situ Lengkong Panjalu sebagimana terungkap pada Titah Sanghyang Cakradewa.
Demikian sejak itu Prabu Borosngora sebagi Raja Soko Galuh Panjalu, sedang
Prabu Lembu Sampulur II diserahi tugas memegang kekuasaan di wilayah Gunung
Tampomas Sumedang hingga kemudian menurunkan raja-raja Sumedang sebelum
keruntuhan Pajajaran.
Petunjuk yang diberikan Baginda Ali r-a kepada Prabu
Borosngora adalah segera pulang ke Panjalu dan ajarakan Agama Islam. Sebagai
“tand mata” Baginda Ali r-a memberikan barang perkakas berupa Pedang dan Ciss
(tombak bermata dua) kepada Prabu Borosngora sebagai kelengkapan tugas dan
perjuangannya menyebarkan Agam Islam. Selanjutnya Bagi Ali r-a menyuruh Prabu
Borosngora untuk mengambil air zam-zam dengan gayung bungbas yang dibawanya.
Ternyata atas izin Allah Swt, air zam-zam dapat ditampung dengan gayung
tersebut. Atas petunjuk dan nasihat Baginda Syayidina Ali r-a berangkatlah
Prabu Borosngora ke Panjalu.
Setibanya di Panjalu ternyata ayahnya Sanghyang Cakradewa
telah meninggalkan Kerajaan di Dayeuh Luhur dan bertapa di Panjalu. Atas
petunjuk dan saran Prabu
Lembu Sampulur II, Prabu borosngora kemudian berangkat
menemui ayahnya dipertapaan Cipanjalu dengan membawa Gayung Bungbas yang penuh
berisi air zam-zam dan pedang. Langkah pertama yang dilakukan Prabu Borosngora
yaitu membendung Areal Legok Pasir Jambu hingga menjadi Situ (Danau) serta
mencurahkan air zam-zam menyatu dengan air danau tersebut. Tanah yang tak
terbendung berwujud Nusa (pulau Kecil) ditengah danau.
Terdapat tiga buah nusa pada areal situ lengkong yang
masing-masing berfungsi sebagai bangunan kraton (Nusa Gede). Lokasi kepatihan
dan Paseban Kraton(Nusa Hujung) dan taman buah-buahan di Nusa Pakel. Dari
keraton Kepatihan dibangun jembatan penghubung yang terbuat dari balok-balok
kayu yang dinamakan Cukang
Padung. Bagian Ibu Kota Kerajaan Panjalu yang dibangun Prabu
Borosngora sebagimana berikut:
A.Istana Kerajaan, dikelilingi rumah para menteri dan
punggawa Keraton nusa gede
B.Kepatihan dan Paseban Keraton di Nusa Pakel
C.Taman buah-buah di nusa Pakel
D.Jembatan Cukang Padung dengan dua Gerbang
Wangsit (Wasiat) Sanghyang Borosngora - Syeh Panjalu
Gunung teu beunang dilebur – [Gunung tidak boleh digunduli]
Lebak teu beunang diruksak – [Lereng tidak boleh dirusak
Larangan teu beunang dirempak – [Larangan tidak boleh dilanggar]
Buyut teu beunang dirobah – [Aturan tidak boleh dirubah]
Layar teu beunang dipotong –[ Layar tidak boleh dipotong]
Pondok teu beunang disambung – [Pendek tidak boleh disambung]
Nyaur kudu diukur – [Bertutur (kata) harus diukur]
Nyablama kudu diungang – [Berkata harus yang benar]
Ulah ngomong sageté-geté – [Jangan berbicara seenaknya]
Ulah lemék sadaék-daék – [Jangan berucap semaunya]
Ulah maling papayungan – [Jangan mencuri perlindungan]
Ulah zinah papacangan – [Jangan berzinah ketika berpacaran]
Kudu ngadék sasekna nilas saplasna – [Harus memotong sewajarnya – menepas sebaik-baiknya]
Mipit kudu amit ngala kudu menta – [Memetik harus pamit – menuai harus minta (dulu) ]
Ngeduk cikur kudu mihatur – [Mengambil kencur harus dengan tutur (kata dulu)]
Ngagedak kudu bewara – [Memotong harus dengan pernyataan]
Nu lain kudu dilainkeun – [Yang lain harus dilainkan]
Nu ulah kudu diulahkaeun – [Yang tak boleh harus dilarang]
Nu enya kudu dienyakeun – [Yang benar harus dibenarkan ]
Ulah cueut kanu beureum – [Tidak boleh tertarik kepada yang merah]
Ulah ponténg kanu konéng – [Tidak boleh tertarik kepada yang kuning]
Karana lamun dirempak – [Karena kalau dilanggar]
Matak burung jadi ratu – [Akan busuk menjadi ratu]
Matak édan jadi ménak – [Akan édan (gila) menjadi pejabat]
Matak pupul pangaweruh – [Akan habis pengetahuan]
Matak hambar komara – [Akan jatuh wibawa]
Matak teu mahi juritna – [Akan kalah dalam pertempuran ]
Matak teu jaya perangna – [Tidak akan jaya dalam peperangan]
Matak sangar ka nagara. – [Akan (membawa) apes negara.]
Minggu, 13 Maret 2016
Dr Koorders dan Situ Panjalu
Seringkali situ Panjalu sering dikait-kaitkan dengan Dr Koorders. Memang batul, karena pulau yang ada di tengah-tengah yang bernama Nusa Gede disebut juga pulau Koorders. Siapa sebenarnya Koorders ini?
Sijfret Hendrik Koorders lahir di Bandung, 29 Nopember 1863. Dibesarkan di Haarlem Belanda, lalu belajar ilmu kehutanan di Berlin. Tahun 1884, ia ditugaskan ke Jawa sebagai pejabat kehutanan, tapi lebih minat dengan tumbuh-tumbuhan.
Antara 1884-1918, Koorders melakukan banyak ekspedisi di Jawa, sebagian Sumatera dan Minahasa. Dari ekspedisi itu, ia mengoleks 40.000 spesimen herbarium, lalu ia menulis 240 artikel ilmiah dan mendeskripsikan 596 jenis tumbuhan dengan kode “kds”. Jika kita membaca nama ilmiah “Pandanus bantamensin Kds”, artinya Koorders adalah orang pertama yang mendeskripsikan Pandanus bantamensin melalui publikasi ilmiah. Disela-sela kerja dan penelitiannya, ia selesaikan disertasi doktornya tahun 1897 di bidang botani dari Universitas Bonn, Jerman.
Bagi seorang peneliti, mendeskripsikan jenis baru adalah prestasi dan kebanggaan karena prosesnya yang rumit. Sebagai penghormatan atas prestasinya, 25 ilmuwan mengabadikan Koorders menjadi nama marga tumbuhan (Koordersiodendron dan Koordersiochloa), 37 jenis dan 2 variasi jenis tumbuhan. Kalau sekarang, asal bisa bayar ke penemunya, nama kita bisa diabadikan sebagai nama jenis. Tapi dulu, pemberian nama merupakan penghargaan atas prestasi seseorang.
![]() |
| Keluarga Dr Koorders sedang menunggang kuda di pegunungan Tengger |
Selain di bidang botani, Koorders juga membidani lahirnya Perkumpulan Perlindungan Alam Hindia Belanda pada tanggal 22 Juli 1912. Perkumpulan itu dibentuk karena prihatin atas kerusakan hutan yang ada pada saat itu. Koorders menjadi ketua perkumpulan hingga meninggal tahun 1919. Saya pikir, Perkumpulan ini adalah LSM pertama di bidang konservasi di Indonesia, walaupun dari 19 anggota hanya satu pribumi asli, Pangeran Poerbo Atmodjo (Bupati van Kutohardjo).
Dalam kepemimpinannya, Perkumpulan ini berhasil mendirikan dan mengelola Monumen Alam (MA) Depok (1913), MA Rumphius di Ambon (1913), mengajukan sejumlah kawasan menjadi monumen alam, dan mengusulkan Ordonansi Monumen Alam (1916) kepada pemerintah. Natuurmonumenten Ordonantie itu akhirnya terbit tahun 1916, disusul penunjukan 55 monumen alam (1919), 7 monumen alam (1920), dan 6 monumen alam (1921).
![]() |
| Dr. Koorder sedang bekerja di laboratorium dengan para staffnya. Foto th 1890-1900. |
![]() |
| Dr. Koorders dan istrinya (Anna Koorders ) di Purworejo. Maret 1906 |
![]() |
| Dr. Koorders dan istrinya (Anna Koorders) di Purworejo. Maret 1906 |
![]() |
| Papan keterangan di gerbang masuk ke pulau "Koorders" |
CAGAR ALAM PANJALU/KOORDERS
KEADAAN FISIK KAWASANLuas dan letak
Kawasan hutan Panjalu/koorders ditetapkan sebagai Cagar Alam (CA) berdasarkan Gb. Tanggal 21-2-1919 Nomor : 6 Stbl. 90, dengan luas lahan 16 Ha. Cagar alam ini terletak di tengah danau (situ) yaitu : Situ Lengkong, secara astronomis terletak antara 7 derajat 9� � 7 derajat 17� LS dan 108 derajat4� � 108 derajat 21� BT. Sedangkan menurut administrasi pemerintahan termasuk kedalam wilayah desa Panjalu Kabupaten Ciamis.
Topografi
Keadaan topografinya termasuk datar dengan ketinggian tempat 731 � 760 meter di atas permukaan laut.
Iklim
Menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson, iklim Kawasan ini termasuk iklim tipe B dengan curah hujan rata-rata 3.195 mm per tahun. Suhu rata-rata 19-32 derajat Celsius.
POTENSI BIOTIK KAWASAN
Flora
Vegetasi yang ada di Cagar Alam Panjalu cukup banyak jenisnya, sebagian besar merupakan hutan primer yang masih utuh. Tumbuhan yang mendominasi kawasn ini adalah : Kihaji (Dysoxilum sp), Kileho (Sauraula sp), Kondang (Ficus variegata), Kiara (Ficus sp), Bungur (Lagerstromia sp), dan Huru (Litsea sp), sedangkan tumbuhan bawah diantaranya adalah : Rotan (Calamus sp), Tepus (Zingi beraceae) dan Langkap (Arenga sp).
Fauna
Satwa liar yang banyak dan mudah dijumpai adalah : Kalong (Pteropus vampyrus). Janis fauna lainnya adalah Tupai (Calosciurus nigrivittatus), Trenggiling (Manis javanicus), Biawak (Varanus salvator), Ular Sanca (Phyton repticulatus) dan beberapa jenis burung seperti Burung Hantu (Otus scops), Elang (Haliastur indus) dan Gelatik (Munia sp).
AKSESIBILITASUntuk menuju kawasan Cagar Alam Panjalu dapat di tempuh melalui :
- Bandung � Ciawi � Panjalu, sejauh � 95 Km.
- Tasikmalaya � Rajapolah �Cihaurbeuti � Panjalu, berjarak � 40 Km.
- Ciamis � Cihaurbeuti � Panjalu berjarak � 40 Km.
Baca juga:
Peta Panjalu
Kelestraian Situ "Koorders" Panjalu
Sumber:
http://suerdirantau.wordpress.com
http://commons.wikimedia.org
Langganan:
Postingan (Atom)

























