Mars Panjalu ini menyimpan arti yang begitu penting bagi kemajuan desa panjalu dan masyarakat desa panjalu. Karena dalam mars panjalu ini mengajak masyarakat panjalu untuk maju, berkembang, agamis, agraris, bermanfaat dan untuk meningkatkan kesadaran bersama.
Lirik Mars Panjalu
Kita Bersatu Bangun Desa Tercinta
Panjalu Menuju Maju Untuk Bersama
Rakyat Pun Terdepan Masyarakat Berkembang
Agamis, Agraris, Bermartabat
Kita Tingkatkan Kesadaran Bersama
Dalam Hukum Negara Agama
Kembangkan Ekonomi Masyarakat Terdepan
Pariwisata Kota Budaya
***Panjalu tunggul Rahayu
Rakyat Bersatu...........
Panjalu Tanggal Waluya
Rakyat Sejahtera..........
Acara Nyangku di Alun-alun
Senin, 15 Februari 2016
Juru Pelihara Ma Iyam Panjalu
Dalam usianya menuju senja, Ma Iyam selalu menebar senyum. Sesekali selalu merasa merendahkan dirinya, bila ia merasa menyajikan panganan alakadarnya. Tentu saja wajah ramah itu seperti membasuh tamu menjadi sumringah. Dari siang ke larut malam, kadang hingga jelang pagi,
Ma Iyam selalu sabar menemani tamu yang hendak berziarah. Bukan saja dari lingkungan Ciamis, bahkan beberapa tamu sengaja datang dari luar Jawa. Sejak remaja, ia menekuni sebagai juru
pelihara (kuncen), disamping sebagai penggarap ladang.
Ma Iyam mendapatkan penghargaan, sebagai pejuang pelestari lingkungan, dari Komunitas peduli
lingkungan hidup Bela Alam Nusantara (KPLH BELANTARA) 11 Arpil 2007,
dengan Serah terima bibit pohon Tanjung. Penghargaan dari Depdikbud Kabupaten Ciamis, 14 September 1999, sebagai Kuncen Kiai Panghulu Gusti Ciomas Panjalu. Penghargaan dari Gubernur Jawa Barat, 6 Juni 2006, sebagai Masyarakat Peduli Lingkungan Hidup dari Pemprov Jawa Barat. Sebagai Juru Pelihara melalui keputusan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkab Ciamis, 06
Januari 2011. (Nomor 800/013/-Disbudpar.2011).
Lahir dan besar di Ciamis, 2 Februari 1955, terlahir dengan nama Siti Maryam. Kini
tinggal di Dusun Ciomas, RT01 RW01, Desa Ciomas, Kecamatan Panjalu,
Kabupaten Ciamis Jawa Barat. Juru Pelihara Hutan Keramat KH. Panghulu Gusti,
situs Geger Omas di Desa Ciomas, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa
Barat.
![]() |
| Ma Iyam menyerahkan "kele" yang berisi air kepada ketua yayasan Borosngora Ir. Mamay Sudirman Cakradinata pada upacara Adat Serah Terima Tirta Kahuripan |
Sumber tulisan: http://denisugandi.com
Rabu, 06 Januari 2016
Pelatih Persib Djadjang Nurdjaman Didaulat Usung Keris di Ritual Nyangku Panjalu di Kabupaten Ciamis
Kegiatan ini berlangsung di Alun-Alun Panjalu Ciamis, Senin (4/1/2016).
Kali ini berbeda dari tradisi Nyangku pada tahun-tahun sebelumnya.
Diantara tumpah ruah ribuan orang yang bedesak-desakan di pusat kota Panjalu tersebut, tampak dua wajah yang sudah tidak asing dan malah sangat terkenal di Jawa Barat bahkan di tanah air.
Yakni Djajang Nurdjaman (Djanur) sang pelatih Persib Bandung serta Oni SOS yang kini jadi anggota DPD RI.
“Saya masih keturunan Panjalu. Kakek asli berasal dari Panjalu,” tutur Djajang Nurjaman kepada wartawan disela-sela upacara ritual Nyangku. (*)
Sumber: TRIBUNJABAR.CO.ID
Selasa, 05 Januari 2016
Nyangku di Panjalu Kali Ini Tanpa Rebutan Air Cucian Pusaka
CIAMIS, (PRLM).- Ribuan warga menyaksikan puncak prosesi upacara adat Nyangku di wilayah Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Senin (4/1/2016). Nyangku yang sudah berumur ratusan tahun itu ditandai dengan penyucian atau jamasan pusaka peninggalan Kerajaan Panjalu.
Seperti biasanya, proses Nyangku yang dilaksanakan minggu terakhir bulan Maulid, pada hari Senin atau Kamis, sudah mulai dilakukan sejak beberapa hari sebelumnya, di antaranya adalah mengambil air dari sembilan sumber mata air yang berbeda. Seluruh air tersebut kemudian disatukan untuk menjamas atau mencuci aneka pusaka.
Pencucian pusaka dilaksanakan di Taman Boros Ngora (Alun-alun Panjalu). Sejak pagi warga sudah berduyun-dutun memadati tempat Nyangku. Mereka tidak hanya datang dari wilayah tatar Galuh Ciamis, akan tetapi juga beberapa keturunan keluarga Kerajaan Panjalu yang tersebar di berbagai kota.
Berbeda dengan sebelumnya, pengemasan upacara tradisi Nyangku, sejak tiga tahun terakhir ini juga diawali dengan beberapa pertunjukan kesenian tradisional yang ada di wilayah Panjalu dan sekitarnya. Di antaranya tari Kele, Tari Buta Kararas Batok. Tarian yang sudah jarang tampil itu, mendapat perhataian dari penonton yang memenuhi lokasi Nyangku.
Diawali pukul 7.30 WIB, seluruh benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan Panjalu di keluarkan dari tempat penyimpanan yang ada di Bumi Alit, sekira. Satu per satu pusaka yang di antaranya berupa pedang, cis, keris komando, bangreng, dan gong. Pusaka tersebut dibopong (diais) oleh keturunan raja Panjalu, diikuti warga terpilih.
Iring-iringan pembawa pusaka kemuidan naik perahu menuju Nusa Gede yang berada di tengah Situ Panjalu atau Situ Lengkong . Ditempat tersebut terdapat makam Raja Panjalu Prabu Boros Ngora.
Selanjutnya dibawa ke Alun-alun Panjalu untuk disucikan atau dicuci dengan air yang berasal dari sembilan sumber mata air, di antaranya, mata air Situ Lengkong, Cipanjalu, Pasanggrahan, Karantenan, Kapunduhan, Kubangkelong, Kulah Bongbang Kancana. Penjamasan dilakukan di atas panggung bambu cukup tinggi yang berada di tengah Taman Boros Ngora.
Biasanya pada saat dilakukan jamasan, warga saling berebut air bekas mencuci pusaka. Akan tetapi , saat ini pemandangan tersebut tidak terlihat lagi. Terlebih beberapa petugas melakukan penjagaan ketat di sekitar panggung tempat mencuci pusaka. Hal itu juga sebagai upaya untuk mengantisipasi kemusyrikan, sehingga perebutan air dilarang. Kegiatan tersebut lebih dituujukan sebagai upaya menjaga kelestarian budaya dan mempererat silaturahmi.
Sebelum kembali disimpan di Bumi Alit, beberapa keturunan raja Panjalu mengeringkan pusaka yang baru dicuci dengan memergunakan kain. Sebelum dibungkus, benda pusaka tersebut dikeringkan dengan cara diasapi yang menebarkan semerbak aroma wangi.
Panitia Nyangku yang masih keturunan Raja Panjalu, Haris Riswandi Cakradinata mengatakan bahwa secara tersirat upacara Nyangku merupakan yakni symbol membersihkan atau mensucikan diri. Saat ini kegiatan tersebut juga sebagai moment, forum silaturahmi warga Panjalu dan warga Kabupaten Ciamis.
“Pada masa lalu, Nyangku merupakan kegiatan bertemunya para tokoh. Nyangku selalu dilaksanakan pada minggu keempat bulan Mulud, sekaligus sebagai kegiatan maulid Nabi Muhammad SAW,” jelasnya.
Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com
Nyangku 2016 - Januari
Upacara Nyangku, Senin 4 Januari 2016
![]() |
| Benda pusaka baru dikeluarkan dari tempat penyimpanan di Bumi Alit |
![]() |
| Arak-arakan siap dimulai |
![]() |
| Ibu-ibu pembawa kele, wadah air terbuat dari bambu gelondongan |
![]() |
| Arak-arakan menuju situ Lengkong |
![]() |
| Makam Prabu Hariang Kencana yang merupakan putera dari Pangeran Borosngora yang baru direnovasi Tentang silsilah keturunan Panjalu lihat di sini |
![]() |
| Pembawa pusaka berdiam sejenak di sini untuk mendoakan para leluhur Panjalu |
![]() |
| Bungkus pusakan dibuka di hadapan para masyarakat yang ada di alun-alun |
![]() |
| Pusaka dibersihkan di atas panggung bambu di tengah-tengah alun-alun |
![]() |
| Pemain gembyung yang mengiringi acara Nyangku Tentang kesenian Gmbyung lihat di sini |
![]() |
| Setelah dibersihkan pusaka kemudian diberi minyak wangi lalu dibungkus kembali |
![]() |
| Keramaian alun-alun saat acara Nyangku dilihat dari ketinggian |
Kegiatan Nyangku 2016
Pawai Buta Kararas dan Wayang Landunng
Hari Jumat 1 Januari 2016 jam 13.30 pertunjukan bebegig Buta Kararas dan Wayang landung dilakukan di sepanjang jalan depan Taman Borosngora Panjalu.
Hari Jumat 1 Januari 2016 jam 13.30 pertunjukan bebegig Buta Kararas dan Wayang landung dilakukan di sepanjang jalan depan Taman Borosngora Panjalu.
Upacara Adat Serah Terima Tirta Kahuripan dilakukan setelah parade arak-arakan buta kararas selesai. Upacara adat ini bertujuan untuk menyerahkan air yang diambil dari sebuah mata air untuk dipakai pada acara Nyangku. Air yang dibawa di dalam wadah yang terbuat dari bambu (kele) diserahkan kepada Ketua Yayasan Borosngoro Ir. Mamay Sudirman Cakradinata yang kemudian disimpan sementara di Bumi Alit. Upacara ini diiringi dengan musik kecapi dan suling serta tarian adat.
Mata air yang dipakai dalam upacara Nyangku adalah 9 mata air, yaitu dari:
- Sumber air Situ Lengkong Panjalu
- Sumber air Karantenan Gunung Sawal
- Sumber air Kapunduhan Cibungir Kertamandala
- Sumber air Cipanjalu Bahara
- Sumber air Kubang Kelong
- Sumber air Pasanggrahan
- Sumber air Bongbang Kancana
- Sumber air Gunung Bitung
- Sumber air Ciomas
Untuk melihat foto-foto Nyangku 2016 klik di sini
Senin, 04 Januari 2016
TRAPPAN Mapag Nyangku Panjalu 2016
TRAPPAN (TRAIL ADVENTURE PANJALU PANUMBANGAN) merupakan rangkaian kegiatan Festival Budaya Nyangku 2016 yang diselenggarakan pada tanggal 2 Januari 2016.
Rute yang dilalui sekitar 100 Km melintasi pinggiran daerah Panjalu :
Rute yang dilalui sekitar 100 Km melintasi pinggiran daerah Panjalu :
![]() |
| Ruti yang dilalui TRAPPAN 2016 |
Start dan finish dilakukan di depan Taman Borosngora atau depan Balai Desa Panjalu. Rombongan peserta pertama dilepas oleh Camat Panjalu Drs. H. Erwin Hermawan dan Ketua Yayasan Borosngora Ir. Mamay Sudirman Cakradinata sekitar jam 08.30.
Berikut ini beberapa foto kegiatannya:
Langganan:
Postingan (Atom)





























